Siang itu, saya duduk di pelataran mushalla sekolah. Saya menunggu sampai sholat zuhur berjamaah selesai bermaksud meminjam mukena pada salah seorang guru. Kebetulan hari itu saya tidak membawa mukena seperti biasanya. Sementara mukena yang disiapkan sekolah tidak sebanding dengan jumlah anak yang ada di sekolah
Tidak menunggu lama, sholat berjamaah yang dipimpin oleh guru agama usai. Salah seorang guru menghampiri saya dan bertanya,"Ibu belum sholat?" Saya mengiyakan pertanyaan tersebut. Tanpa saya menyampaikan tujuan saya untuk meminjam mukena, guru tersebut langsung membuka mukena yang dikenakan dan menyerahkan kepada saya.
Saya bergegas mengambil air wudhu di tempat wudhu yang disiapkan sekolah. Tempat wudhu berada di samping mushalla sehingga siapa saja yang berwudhu bisa langsung menuju mushalla tanpa harus mengenakan sandal. Sudah dibuatkan area suci/pijakan bersih yang tidak memperbolehkan siapa saja menginjak tempat itu apabila kakinya kotor. Apalagi akan menaikkan sandalnya ke area suci atau pijakan.
Usai berwudhu saya menuju mushalla melalui pijakan yang disiapkan. Saya mengenakan mukena yang dipinjamkan kepada saya oleh teman guru yang sudah sholat lebih awal. Mushalla sudah berangsur-angsur sepi ketika saya sudah mulai sholat. Tidak ada suara siswa-siswi yang berbicara lagi. Ini pertanda siswa-siswi sudah pulang.
Saya membalikkan badan setelah berdoa. Ada seorang siswa perempuan duduk di sisi mushalla. Ia duduk bersandar di tiang mushalla. Pandangannya diarahkan pada saya, kemudian berkata,"Bu Guru sudah selesai sholat dan berdoa?" Ia bertanya karena melihat saya menghadap belakang, menatapnya sembari melipat mukena yang saya gunakan. Sambil beranjak menuju rak tempat menjemur yang sudah dipakai, saya menjawab pertanyaan siswa tersebut.
"Ya, Bu Guru sudah selesai sholat."
Saya melangkahkan kaki ke arah anak tersebut dan duduk di sampingnya. Karena anak banyak, saya tidak menghapal nama anak satu-satu. "Siapa namamu, Nak? Anak itu menjawab," Saya Aisyah, Bu Guru!"
"Mengapa tidak pulang, Nak?" sambung saya melanjutkan pertanyaan sebelumnya. Macam-macam yang ada dipikiran saya tentang siswa. Mengapa tidak pulang? Apa yang dikerjakan di sekolah sendiri? Apakah nanti berani pulang sendiri? Ada perasaan kecewa pada anak yang tidak langsung pulang ketika sudah waktunya pulang. Perasaan khawatir orang tuanya akan mencarinya ke mana-mana dan pikiran-pikiran lainnya.
Saya terkejut oleh jawaban anak tersebut. "Saya melihat Bu Guru sendirian tadi di sini. Saya kasihan melihat Bu Guru kalau sendiri di sini. Saya tidak enak rasanya kalau pulang lebih dulu makanya saya tunggu saja Bu Guru selesai sholat. Sekarang saya ijin boleh pulang duluan Bu Guru, ya."
Mendengar jawaban anak tadi, saya merasa malu sudah berpikir yang bukan-bukan. Saya malu sudah berburuk sangka pada Aisyah. Ternyata ia anak yang sopan.
Ada karakter baik yang dimiliki Aisyah. Memang bukan hal yang besar namun apa yang dilakukan Aisyah tidak semua orang bisa melakukannya. Dalam pandangan kita, mungkin hal ini merupakan hal yang kecil dan sepele tidak semua anak seusia Aisyah yang saat itu duduk di kelas 4, bisa melakukannya
Aisyah, baik peringaimu, baik perilakumu
Tutur katamu dan lakumu lembut
Suaramu sahdu tatapan matamu sayu
Maafkan ibu yang ragu padamu
Lombok 31 Januari 2023
Tidak ada komentar:
Posting Komentar