Aisyah tidak selamanya harus duduk di bangku sekolah dasar. Saatnya ia harus meninggalkan bangku sekolah dasar. Saya berharap Aisyah akan melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Cita-citanya ingin menjadi guru. Semoga cita-cita Aisyah bisa tercapai....
Aisyah melangkahkan kaki, meninggalkan sekolah dengan berbekal ijazah. Selembar kertas yang menjadi catatan dalam hidupnya.
Aisyah meninggalkan buku catatan pribadinya pada guru kelas. Buku yang tersurat di dalamnya tentang pribadi Aisyah. Bagi saya,...Aisyah tidak hanya meninggalkan buku yang di dalamnya tersurat tentang dirinya, namun jauh lebih penting dari itu. Aisyah role model sekolah kami, telah meninggalkan pesan dan kesan tersirat kepada teman-temannya. Pembelajaran yang berarti juga bagi saya.
Aisyah hidup sederhana bersama orang tuanya yang hanya buruh serabutan menempatkan pondasi agama dan karakter yang baik dalam kehidupannya sehari-hari. Aisyah yang mengingatkan saya untuk tidak hanya berada di sekolah, menerima laporan tentang anak-anak dari guru kelas tetapi harus lebih dekat membaca keadaan anak-anak. Aisyah yang memanggil hati saya untuk turun berkunjung melihat keadaan anak-anak di tempat tinggalnya.
Dalam tulisan saya sebelumnya, setiap anak mempunyai karakter masing-masing. Role model di sekolah tidak bisa menginspirasi semua anak. Ada saja anak yang kekeh dengan kelakuannya.. Peran guru mengajar bisa berhasil namun ada saja peran mendidik yang tidak seratus persen berhasil. Ada korelasi antara pendidikan di sekolah dengan pendidikan yang diperoleh di rumah seperti di lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat.
Satu contoh, sekolah tidak pernah mengajarkan anak untuk berkata kotor. Lingkungan sekolah tidak medengarkan perkataan-perkataan kotor. Lalu darimana anak memperoleh kata-kata kotor saat berkelahi dengan temannya. Atau sekolah tidak pernah mengajarkan berkelahi, darimana anak mendapat pembelajaran berkelahi.
Saya terpanggil untuk melakukan kunjungan rumah setelah banyak cerita catatan dari kunjungan ke beberapa teman Aisyah di kampungnya. Jika ada anak yang perilakunya tidak sesuai dengan yang diharapkan atau melanggar tata tertib sekolah secara berturut-turut maka membutuhkan penyelesaian dengan orang tua. Penyelesaian yang memerlukan bantuan atau kerjasama dengan orang tua melalui kunjungan rumah. Saya, guru kelas dan seksi humas yang menjalankan tugas ini. Tidak jarang saya sendiri yang berkunjung ke rumah orang tua sekaligus membonceng anak yang melakukan pelanggaran pulang ke rumahnya. Tentu setelah jam pelajaran usai.
"Ibu yang mengantar kamu pulang, ya!" ucap saya pada seorang anak bernama Kia yang membuat guru kelasnya menangis karena kelakuannya di kelas. Kia takut karena saya yang akan mengantar. Ia tidak mau karena orang tuanya pasti marah. Ia sudah berulangkali melakukan pelanggaran yang membuat orang tuanya marah.
"Jangan, Bu Guru. Saya pulang sendiri saja, Bu guru." jawabnya kelihatan ketakutan. Saya mendekati dan berjanji akan memenuhi permintaannya.
"Ya, nanti ibu turunkan kamu di gang rumahmu. Ibu tidak akan masuk rumahmu." begitu janji saya pada Kia sehingga ia mau diantar oleh saya. Menurut teman-temannya, Kia sering dipukul oleh orang tuanya. Saya semakin penasaran seperti apa kehidupan di keluarga Kia yang membentuk karakternya.
Mendengar cerita teman-teman Kia, saya menjadi takut jika KIa diantar pulang oleh guru kelasnya. Saya khawatir orang tuanya nanti tidak menerima dan justru marah pada guru saya.
Saya membonceng KIa pulang ke rumahnya. Sepanjang perjalanan ia menangis di sela-sela ia menjawab pertanyaan saya. Jarak rumahnya dengan sekolah kurang lebih 1 kilometer. Jadi tidak lama saya sudah sampai di gang depan rumahnya. Anak ini hendak turun dari motor sesuai dengan janji saya. Tetapi terpaksa saya mengingkari janji demi bertemu dengan orang tuanya. Begitu Kia mau turun dari motor, saya langsung menghentikannya.
"Diam! Tidak boleh turun. Ibu ingin bertemu dengan orang tuamu." Kia seperti kerbau dicocok hidung. Ia menurut kata-kata saya.
Begitu sampai depan rumah Kia, saya matikan motor. Kia turun dari motor dan langsung masuk rumah. Sepertinya ia masuk kamar dan tidak keluar lagi.
"Asaalamualaikum arahmatullahi Wabarakatuh!" Salam saya sampaikan ketika melihat ada seorang ibu duduk di berugak (Bangunan bertiang empat, tempat menerima tamu suku sasak).
"Waalaikum salam. Pasti ada masalah yang dilakukan anak saya, Bu." menjawab salam dilanjutkan dengan pertanyaan ditujukan kepada saya oleh ibunay Kia.
"Tidak! Mengapa ibu bertanya begitu?"
"Ya, selalu saja anak ini membuat masalah. Kemarin sudah datang pengaduan dari tetangga. Minggu lalu sudah juga datang laporan dari guru kelasnya." Ibu Kia dengan suara parau bercerita tentang anaknya.
Karena ibu Kia yang mengawali bercerita bahwa anaknya sering membuat masalah termasuk di rumah, maka saya mengiyakan bahwa Kia membuar masalah di sekolah. Saya menjelaskan panjang lebar tentang apa yang dilakuka Kia di sekolah. Kelakuan Kia membuat guru kelasnya menangis termasuk saya. Saya merasa gagal mendidik anak ini di sekolah. Kepada orang tua Kia, saya meminta agar masalah perbaikan perilaku Kia ini menjadi tanggung jawab kita bersama. Saya juga memukul Kia, karena ia masih anak-anak. Mungkin karena pergaulannya di lingkungan rumah, masyarakat dan pengawasan orang tua yang kurang inten terhadap pergaulan Kia.
Saya hanya bertemu dengan ibunya Kia. "Bapaknya Kia, mana?"tanya saya pada ibunya Kia yang masih mengusap matanya. Ia berbicara tanpa melihat ke arah saya. Tatapannya kosong seperti penuh kemarahan dan kesedihan. Kekecewaan tampak dari raut mukanya dan sikapnya ketika berbicara dengan saya.
Ibu Kia menunjuk ke arah bangungan beratap seng, semacam garasi tempat parkir. Ada dua buah sepeda motor terparkir di sana. Pandangan saya arahkan ke tempat yang ditunjukkan ibunya kita.
Seorang laki-laki yang saya jumpai pertama ketika saya baru datang. Lelaki itu pula yang mempersilahkan saya duduk tanpa bertanya saya mencari siapa. Ia langsung memanggil istrinya (ibunya Kia) untuk menemani saya.
Lelaki bertumbuh tambun mengenakan celana jeans yang dipotong selutut. Ia tidak mengenakan baju sehingga perutnya yag buncit dengan kulit hitam tampak jelas terlihat. Ada perasaan takut ketika saya baru tiba di rumah Kia. Ternyata lelaki itu adalah ayahnya Kia,
Sepanjang saya berbicara dengan ibunya Kia, ayah Kia sibuk dengan kegiatannya. Ia sedang membersihkan sepeda motornya. Ia tak sedikitpun menghampiri saya apalagi bertanya tentang keperluan saya datang ke rumahnya. Mungkin ia tahu bahwa saya datang adalah terkait dengan perilaku anaknya seperti cerita ibunya Kia.
Tidak lama berselang. lelaki itu mmengambil handuk dan masuk rumahnya.
"Dar! Jeplak! Jeblak!" suara terdengar dari dalam rumah.
Saya kaget, karena begitu ayahnya Kia masuk rumah dan tidak tampak lagi dari luar, suara itu terdengar dari dalam rumah. Suara tangis juga terdengar dari dalam rumah.
"Ibu, tadi sudah saya katakan, Kia jangan dipukul! Ijinkan saya masuk ke dalam rumah ibu."
Tanpa menunggu jawaban ibunya Kia, saya langsung lari masuk rumah. Saya lihat Kia yang membungkuk memegang lututnya menangis memohon ampun pada ayahnya. Wajah ketakutannya tampak jelas. Kia dipukul ayahnya menggunakan handuk. Ayahnya memukul tanpa berkata apa-apa. Mungkin sudah kecewa yang berlebihan.
"Saya mohon, Pak! Jangan pukul Kia. Kia perlu pendampingan dari kita." saya mendekati ayahnya Kia yang bertumbuh tambun itu. Saya tidak merasa takut sedikit pun. Saya memohon dengan suara terbata-bata karena saya menangis. Saya mengepit kedua tangan, memohon agar Kia tidak dipukul lagi.
"Ini anak, tidak ada kapoknya! Selalu saja membuat orang tua malu." umpatan kekecewaan bapaknya Kia diluapkan di depan saya. Memang benar juga, Kia tidak kali ini saja berbuat tidak baik di sekolah. Karena berulang kali itulah yang membuat saya ingin sekali bertemu orang tua Kia.
Setelah emosi bapaknya Kia mereda, saya ke luar rumah. Saya duduk kembali di berugak bersama ibunya Kia. Saya ingin pamit pulang membawa cerita dari rumah Kia. Sebelum pulang ada cerita menyedihkan lagi yang saya dapatkan di rumah Kia. Ibu Kia bercerita, Kia bukan anak kandungnya. Kia diambil menjadi anak angkatnya sejak bayi.
Saya berpikir, jika Kia diangkat menjadi anak sejak bayi. lalu Kia berperilaku seperti ini, pola pendidikan seperti apa yang didapatkan dari rumahnya? Apakah pola asuhnya yang salah?
Saya pulang dengan beragam pertanyaan dalam benak saya. Sepanjang perjalanan, semua yang terjadi dan yang saya lakukan menjadi bahan renungan saya.
Bagimanapola asuh yang baik di rumah. Bagaimana pola kerjasama sekolah dan orang tua jika ada satu atau dua anak dalam kum[ulan anak yang jumlahnya ratusan berperilaku lain dari temannya.
Introspeksi diri.....
Melakukan tindak lanjut
Lakukan yang terbaik.
Aisyah pergi, pembelajarannya masih berlangsung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar