Aisyah...
"Melihatmu bisa menginsfirasi teman-temanmu di sekolah dengan sikapmu, membuat ibu penasaran ingin mengetahui sisi lain dalam dirimu. Membaca buku catatan pribadimu yang tersimpan pada guru kelasmu menambah rasa ingin tahu ibu, seperti apa kehidupanmu di rumah. Orang tua sederhana, rajin dan perhatian pada anak-anaknya. Seperti itu gambaran yang ibu dapatkan dari guru kelasmu."
Berkunjung ke kediaman Aisyah merupakan keinginan yang sudah lama saya rencanakan. Tidak pagi hari, namun kunjungan akan saya lakukan setelah memantau sekolah pagi hari. Masuk ke beberapa kelas yang untuk memantau kesiapan belajar anak-anak. Banyak hal yang saya lakukan setelah melakukan pemantaun kesiapan anak-anak belajar. Satu di antaranya adalah menemukan kelas yang anak-anaknya tidak masuk lebih dari 2 hari tanpa keterangan.
Dasar temuan inilah, saya sering bertandang melakukan kunjungan rumah. Mengendarai sepeda motor vario pink yang selalu setia mengantar, mengelilingi kampung, masuk dari gang yang satu ke gang yang lain. Saya sering berkeliling ke kampung-kampung asal anak pada jam-jam sekolah. Jika menemukan anak sekolah bermain di rumah pada jam sekolah, maka saya langsung saja memaksanya masuk sekolah semacam sidak atau insfeksi mendadak. Namun tidak kali ini. Tujuan kali ini adalah khusus untuk Aisyah.
Dengan berbekal catatan kecil berisi alamat Aisyah yang saya peroleh dari guru kelasnya dan alamat yang lebih rinci dari teman sekampung Aisyah, saya berangkat kunjungan rumah. Rasanya seperti mau bertemu seseorang yang sangat dirindukan. Pertanyaan-pertanyaan yang akan saya ajukan pada orang tua Aisyah sudah berada dalam benak. Pertanyaan tidak banyak karena saya ingin berbincang-bincang tentang bagaimana Aisyah di rumah bersama keluarganya. Saya ingin orang tua Aisyah yang bercerita tentang kehidupan keluarganya terutama bagiamana mereka mendidik Aisyah di rumah. Bagimana orang tua Aisyah memberikan pendidikan atau pembelajaran tentang perilaku kepada Aisyah. Di samping ingin mengetahui lebih banyak tentang Aisyah dalam keluarganya, saya juga ingin mengetahui bagaimana lingkungan membentuk Aisyah.
Apakah ada peran lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakar dalam pembentukan karakter Aisyah dan karkater anak-anak pada umumnya.
Lingkungan memiliki peran sentral dalam pembentukan karakter anak, baik lingkungan keluarga, lingkungan sekolah ataupun lingkungan masyarakat. Keluarga meripakan lingkungan pertama dikenal anak, sehingga orang tua harus mampu menciptakan lingkungan keluarga yang kondusif bagi anak.
Peran orang tua dalam mewujudkan kepribadian anak antara lain kedua orang tua harus mencintai dan menyangi anak-anaknya, kedua orang tua harus menjaga ketenangan lingkungan rumah dan menyiapkan ketenangan jiwa anak-anak, saling menghormati antara kedua orang tua dan anak-anak, mewujudkan kepercayaan.
Membangun karakter anak juga merupakan salah satu tanggung jawab penting orang tua. Meskipun sekolah memberikan pendidikan karakte dan menanamkan nilai-nilai utama karakter pada diri anak-anak, nmaun orang tua tetap memegang peran utama dalam pengembangan karakter. Orang tua merupakan figru penting dalam proses tumbuh kembang anak. Selain itu, orang tua sebagai contoh pembentukan karakter anak yang baik, memenuhi saran dan prasarana untuk mengembangkan kemampuan sebagai bekal kehidupan anan di asa depan serts bagaimana menanamkan nilai sosial, budaya dan agama sedini mungkin, memberikan kasih sayang, perhatian, kepedulian kepada anaknya.
(https://kumparan.com/hanifah-assyadiah/peran-orang-tua-dalam-membangun-karakter-anak-1x9H)
Adakah orang tua Aisyah melakukan peran dan tanggung jawabnya sesuai dengan yang seharusnya?
Suasana sepi di rumah Aisyah begitu saya tiba. Orang tua Aisyah, bapaknya pergi bekerja memburuh serabutan. Ibunya hanya ibu rumah tangga. Aktivitasnya di rumah adalah mengerjakan pekerjaan rumah tangga, mengasuh anak-anaknya dan pekerjaan sampingannya setelah selesai mengerjakan pekerjaan rumah adalah menganyam kerajinan bakul berbahan bambu.
Berbincang-bincang dengan ibunya Aisyah ternyata asyik juga. Ia sosok yang ramah, sopan dan terbuka. Ia mempersilahkan saya duduk di teras rumah kecilnya. Rumahnya terdiri dari dua kamar tidur dan satu ruang tamu. Berada dalam gang sempit yang padat penduduknya. Rumah sekitar tempat tinggal Aisyah padat dengan tata bangunan yang kurang beraturan. Rumah dengan ukuran yang hampir sama semua. Inilah rumah anak-anak yang sekolah di tempat kami.
Melihat kondisi rumah seperti tiu, rasa bersyukur saya bertambah. Mereka yang hidup dan tinggal di rumah seperti ini tampak bahagia dan mensyukuri keadaan.
فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
"Fabiayyi'ala irobbikuma tukadziban"
"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"
"Maka nikmat-nikmat Rabb kalian yang manakah yang kalian berdua (jin dan manusia) dustakan?"(Apa Arti dari Fabiayyi Ala Irobbikuma Tukadziban? Ini Jawabannya | kumparan.com)
Aisyah mendapat didikan dari orang tua yang santun, penyabar dan menghargai orang lain. Orang tuanya menanamkan kejujuran walaupun hidup sederhana. Agama menjadi kekuatan dan pedoman dalam menjalani hidup di masyarakat dan di sekolah. Katanya,"Hormati guru agar berkah ilmu yang diterima."
Lombok, 13 Februari 2023
Tidak ada komentar:
Posting Komentar