Aisyah,....
Berkunjung ke rumahmu, membuat saya punya banyak cerita. Tentu bukan cerita tentang Aisyah saja tetapi tentang teman-teman Aisyah yang tinggal dalam satu kampung dengan Aisyah. Aisyah yang hidup sederhana bersama orang tuanya, demikian juga dengan teman-temannya. Sepanjang pengamatan saya sewaktu berkunjung ke tempat Aisyah, rata-rata memiliki kehidupan setara dengan Aisyah. Bahkan ada yang kurang dari Aisyah.
Mata saya nanar , ketika pandangan saya tertuju di salah satu rumah. Rumah itu ternyata rumah anak yang sekolah di tempat saya. Saya mendekat di gang tepat depan rumah tersebut. Ternyata bukan satu rumah, tetapi tiga rumah yang berdempetan saling berhadapan dan tidak punya halaman. Nyaris tidak ada sinar matahari yang masuk. Apakah rumah itu dihuni oleh satu keluarga atau lebih? Pertanyaan itu ada dalam benak saya. Saya masih berada di atas sepeda motor yang saya berhentikan di depan gang sebelum sampai di rumah Aisyah.
Saya menjadi penasaran ketika saya melihat anak usia sekolah pada jam 09.00 berada di rumah? Lagi-lagi pertanyaan muncul dalam benak saya. Apakah anak ini tidak sekolah? Apakah anak ini sekolah di tempat saya? Apakah anak ini sakit? Apakah anak ini dibiarkan saja tidak sekolah oleh orang tuanya? Bermacam pertanyaan di hati saya sebelum saya menuju ke anak tersebut.
Saya turun dari sepeda motor dan melangkah ke arah anak tersebut di rumah yang saya lihat. Tiga rumah yang ada dalam satu komplek tanpa ada sinar matahari masuk dan tanpa halaman. Tiba di rumah itu, saya melihat seorang laki-laki yang saya duga dia adalah orang tua anak yang tidak sekolah tadi. Saya tidak mengenali anak tersebut, apakah anak itu sekolah di tempat saya atau tidak mengingat jumlah anak yang tergolong banyak di sekolah. Tapi saya yakin jika ia sekolah maka pastilah ia sekolah di tempat saya. Satu-satunya sekolah yang ada di sekitar kampung Aisyah adalah sekolah saya.
Melihat saya datang, lelaki paruh baya itu adalah orang tua anak yang saya lihat. Saya bertanya,"Apakah ini putra bapak dan apakah ia sekolah di tempat kami?" Lelaki itu mengiayakan pertanyaan saya. Lalu mengapa ia tidak sekolah? Jawaban yang dapatkan adalah anaknya tidak sekolah karena terlambat bangun. Saya menjadi heran jika anak terlambat bangun pagi, bagaimana dengan Subuhnya? Apakah orang tuanya juga terlambat bangun. Bagaimana dengan Subuh orang tuanya? Astagfirullah....bukan bersuuzhan.
Keheranan saya bertambah ketika saya berbincang-bincang dengan orang tua di rumah yang saya datangi, keluar masing-masing satu anak dari dua rumah satu komplek. Ya Allah....ucap saya sambil menatap ke arah dua anak yang keluar sambil menggosok-gosok matanya.
'Ini juga , Bu! Dia tidak masuk juga. Katanya libur satu minggu."
Seorang ibu yang keluar dari dapur menunjuk anak yang baru bangun. Ternyata itu adalah anaknya.
"Ya Allah, Ibu! Mengapa ibu bisa dibohongi anak, Bu!. Apakah ibu tidak melihat anak-anak yang lain pagi hari ramai memenuhi gang di depan rumah ibu? Anak-anak berseragam merah putih, Bu?" Pertanyaan saya tujukan kepada ibu dan bapak yang ada di rumah itu.
Guru pertama dan utama bagi anak-anak kita adalah orang tua.
Saya tidak berlama-lama di rumah itu. Saya jelaskan kepada orang tua tersebut bahwa kegiatan saya di samping berada di sekolah, saya rutin berkeliling ke perkampungan asal anak, asal murid. Tidak secara pemberitahuan, tetapi berifat situasional dan kondisional seperti pada jam-jam anak sudah berada di dalam kelas atau jam sekolah. Jika saya menemukan anak sedang berada di rumah atau saya temukan bermain di kampung pada jam sekolah, maka saat itu juga anak tersebut saya bawa ke sekolah. Saya tunggu mereka mengganti pakaian lalu saya bonceng masuk sekolah.
"Lebih baik terlambat daripada tidak masuk sekolah. tetapi jangan membuat terlambat menjadi kebiasaaan."
Yang bertanggung jawab meletakkan pondasi kuat kepada anak adalah orang tua dan pendidikan di sekolah. Pondasi pendidikan agama, karakter, akhlak, sosial dan budaya.
Dari kampung Aisyah, saya berpindah ke kampung anak yang lainnya. Ada saja cerita yang saya peroleh. Sebut saja namanya Fikri yang asyik meraut bambu untuk membuat layangan di rumahnya sementara teman-teman seusianya bergelut dengan pelajaran di sekolah.
Lain Fikri lain pula dengan Adi. Ia berlari kencang keluar kamarnya ketika mendengar saya datang mengucap salam depan pintu rumahnya.
Ada apa dengan Fkiri dan Adi. Mereka tinggal bersama siap di rumahnya?
Lombok , Tulisan ke-11
Tidak ada komentar:
Posting Komentar