Rabu, 15 Februari 2023

Fikri dan Aldi di Kampung Aisyah (Part 12)

 Aisyah.

Aisyah telah membuka mata hati saya. Aisyah telah membawa saya rutin melakukan kunjungan ke rumah anak-anak yang perlu mendapat perhatian.

Kali ini, kegiatan pembinaan iman dan takwa atau Imtak dilaksanakn di sekolah. Kegiatan diawali dengan sholat duha berjamaah. Tampak anak-anak sudah mulai berkativitas sejak pagi, matahari belum bersinar terik. Ada yang menyapu halaman, ada yang menyiapkan alas sholat dan ada yang menyiapkan meja tempat penitipan iqra' dan Al Qur'an yang akan dibaca ba'da sholat duha. Sementara guru yang bertugas sebagai koordinator imtak memutarkan pembacaaan ayat suci dan lagu-lagu Islami sebelum bel kegiatan Imtaq di mulai.

Pemandangan menarik yang saya saksikan adalah barisan antri wudu'. Karena banyaknya anak, persiapan sandal jepit tidak mencukupi. Pemandangan menarik ketika ada anak yang menggendong adik kelasnya yang tak punya sandal. Tidak hnay satu anak tetapi lebih yang melakukan hal itu. Sejuk sekali hati saya ketika melihat siswa pandai antri dan membantu temannya.

Saya sering mengatakan pada anak-anak,"Jangan suka menerobos barisan antre, karena itu menjadi cikal bakal orang yang suka mengambil hak orang lain. Jika ini dibiarkan akan menjadi cikal bakal korupsi."

Saya juga sering mengatakan bahwa saya lebih bangga anak-anak bisa antre daripada pintar matematika. Matematika bisa dilatihkan dengan cepat anak-anak bisa, tetapi kenyataannya antre ini sangat sulit dibudayakan bahkan bisa jadi sampai tamat sekolah atau sampai dewasa.

Ketika kegiatan imtak sampai pada kegiatan ceramah, saya memperhatikan jumlah anak sedikit lengang dalam shap sholat, saya bertanya siapa yang tidak masuk kepada tiap-tiap ketua kelas. Dari jawaban mereka, saya mendapatkan informasi bahwa ada dua anak yang tidak masuk. Anak itu sekampung dengan Aisyah. Fekri dan Aldi

Saya meninggalkan kegiatan imtak untuk mencari dua anak yang tidak masuk tersebut. Tidak butuh waktu yang lama karena sebelumnya saya sudah beberapa kali melakukan kunjungan ke kampung itu. Menemukan rumah fikri juga tidak sulit. Warga kampung menunjukkan rumah Fikri. Fikri tinggal bersama neneknya. Ibu fikri sudah berpisah dengan bapaknya. Lagi-lagi.......anak korban perpisahan orang tuanya.

Mendengar saya datang, seorang nenek keluar dari rumah dan menemui saya. Banyak hal tentang Fikri yang saya peroleh dari neneknya. Perasaan iba kembali merasuki saya. Bagaimana tidak, untuk makan sehari-hari saja nenek ini mengalami kesulitan. Orang tua Fikri sibuk dengan keluarga baru mereka masing-masing.

Saya bertanya,"Mana Fikri? 

Jawaban neneknya dengan berbagai alasan dan keluhan disampaikan pada saya. Fikri masih tidur. Ia tidak tahu bahwa Fikri sudah berlari keluar kamar ketika mendengar saya mencarinya dan  akan membawanya ke sekolah.

"Nek, Nenek tidak  lihat, Fikri  lari tadi keluar lewat jendela?"

"Nah. itulah dia, Bu!" Saya saja kesulitan membangunkannya, susah, Bu!" ucap nenek Fikri.

Saya gagal membawa Fikri hari itu ke sekolah. Besok Fikri akan sekolah, janji neneknya pada saya.

Kunjungan untuk mencari anak yang main-main di rumah pada saat temannya belajar di sekolah sudah menjadi kegiatan rutin saya lakukan. Kegiatan ini bermaksud supaya jangan ada anak yang tidak sekolah dengan sebab yang tidak penting.




1 komentar:

Langkah Awal CGP Angkatan 10

 Oleh Nuraini Dokumen Pribadi Sekolah Dasar Negeri 1 Dasan Tereng, merupakan salah satu sekolah penyelenggara program sekolah penggerak. Dal...