Karena Aisyah Aku Ada.
Judul tulisan ini sen0da dengan judul tulisan saya sebelumnya yakni Aisyah sebagai salah satu sumber ide munculnya banyak program yang dilaksanakan di sekolah.
Masih lekat diingatan kejadian yang menimpa bumi Lombok dan Sumbawa tahun 2018 lalu. Bencana besar yang amat dahsyat meluluhlantakkan bumi Lombok dan Sumbawa. Memporakporandakan gedung, bangunan bahkan peradaban masyarakat. Tangis yang terdengar di mana-mana kala itu. Ketakutan berhari-hari akibat gempa susulan yang seperti berulang minggu terjadi . Sebagai contoh, gempa terjadi hari Kamis, maka Kamis depannya gempa hadir lagi. Ketika listrik padam tiba-tiba, maka sesaat setelah listrik padam terjadilah gempa. Gempa yang terus-terusan ini membuat masyarakat tidak berani masuk ke dalam rumah mereka yang masih tersisa. Masyarakat lebih memilih tinggal di pengungsian agar lebih aman.
Sekolah diliburkan sampai batas waktu yang tidak ditentukan begitu terjadi gempa berkekuatan 6,4 Mw, jenis sesar naik dengan kedalam 24 km (15 ml) bulan 29 Juli 2018. Gempa susulan terjadi sebanyak 524 kali.(id.m.wikipedia.org). Sekolah menjadi sepi, tidak terjadi pembelajaran sampai batas waktu yang tidak ditentukan saat. itu. Pengecekan terhadap kondisi sekolah segera dilakukan untuk memberikan laporan kepada pihak terkait yakni Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Pengecekan ini dimaksudkan untuk memastikan sekolah aman digunakan untuk belajar anak-anak ketika keadaan sudah normal kembali. Gempa susulan tidak terjadi lagi.
Ketakutan ternyata tidak dialami oleh anak-anak saja. Orang tua justru lebih takut jika anak-anak mereka sekolah saat itu. Pemerintah daerah sudah memperbolehkan anak-anak untuk sekolah, namun sekolah masih tetap saja sepi sampai beberpa bulan sejak kejadian gempa. Bagimana tidak, meskipun pemerintah sudah menyatakan aman untuk anak-anak bersekolah, masih saja terjadi gempa susulan meskipun instensitasnya tidak sesering bulan Juli dan Agustus. Kekuatannya juga tidak seperti ketika gempa pertama dan susulan kedua datang. Namun karena trauma membuat orang tua sangat khawatir dan ketakutan
Berbagai upaya yang dilakukan sekolah untuk mempersiapkan dan menyambut anak-anak datang ke sekolah, namun sekolah tetap saja sepi. Pro dan kontra dari orang tua terjadi. Ada orang tua yanga mengatakan kepada pihak sekolah,"Jika terjadi apa-apa dengan anak saya, apakah sekolah mau bertanggung jawab?" Banyak lagi suara-suara miring yang ditujukan kepada sekolah waktu itu. Situasi seperti ini membuat sekolah mengambil kebijakan, siapa yang berani, yakin dan tidak kahwatir, silahkan putra-putrinya di berikan ke sekolah. Kebijakan ini diberikan sampai masyarakat mendapat edukasi yang tepat.
Kebiasaan untuk berkunjung ke rumah anak-anak membuat saya ingin menjemput anak-anak agar berani kembali ke sekolah. Saya agendakan saat itu untuk berkunjung ke pengungsian yang dijadikan tempat tinggal oleh orang tua murid bersama keluarganya. Ada beberapa titik pengungsian untuk masyarakat sekitar sekolah. Dari dua desa yang menjadi sumber murid, ada 3 titik pengungsian yang menampung masyarakat. tiga titik itulah yang menjadi sasaran saya berkunjung.
Apakah saya takut dengan gempa susulan?
Takut adalah hal yang manusiawi. Tetapi di depan anak-anak dan guru, saya tidak boleh menunjukkan rasa takut. Bagaimana jika saya berterus terang atau bercerita kepada mereka bahwa saya sebenarnya orang yang paling takut., maka mereka akan menjadi lebih takut dari saya. Bisa jadi juga takut menjadi alasan untuk tidak masuk melaksanakan tugas mengajar mereka. Semoga prasangka ini salah.
Saya membuang rasa takut karena tanggung jawab untuk memulihkan keberanian anak-anak untuk masuk sekolah. Saya berusaha menekan semua perasaan takun akibat melihat bagaimanaa rumah saya, di depan mata seperti bergerak turun naik ketika gempa saat itu. Untuk berkunjung ke pengungsian, perlu persiapan. Saya mempersiapkan segala keperluan yang bisa menarik anak-anak untuk berkumpul. Ransel yang saya pikul, saya penuhi dengan snack kesukaan anak-anak. Depan jok motor, saya penuhi dengan minuman yang disukai anak-anak. Saya akan berpindah tempat dari pengungsian yang satu ke pengungsian yang lain.
Di tempat pengungsian, saya disambut anak-anak. Mereka sangat senang dengan kehadiran saya. Mereka bersorak-sorai kegirangan. Saya meminta salah seorang anak memanggil teman-temanya yang masih dibuai selimut dalam tenda pengungsiannya. Tidak berapa lama, mereka sudah berkumpul di sisi lapangan tempat mereka mengungsi. Anak usia sekolah maupun yang belum sekolah ikut duduk mengitari saya yang masih duduk di pinggir lapangan. Suasana bahagia terpancar dari wajah mereka. Tas yang saya pikul saya turunkan dan letakkan di sisi tempat duduk. Saya sampaikan pada anak-anak bahwa di dalam ransel saya penuh dengan kue, permen dan balon. Ini untuk mereka. KIta akan bermain di lapangan bersama-sama. Siapa saja berhak mendapatkan isi ransel ini. Anak-anak kembali bersorak-sorai sambil bertepuk tangan kegirangan.
Saya mengajak mereka bernyanyi, bertepuk dan saling menceritakan tentang pengalaman mereka di pengungsian. Suka duka mereka selama di pengungsian mereka certitakan. Yang berani bercerita saya berikan hadiah. Anak-anak bergandengan tangan, bernyanyi, berputar-putar sambil sesekali menerikkan kata,"Siap Sekolah."
Kunjungan saya dari pengungsian yang satu ke pengungsian yang lain membuat mereka siap ke sekolah keesokah harinya.
Pembelajaran dari Aisyah membuat saya ada dan hadir di pengungsian anak-anak. Memberikan sedikit ketenangan hati dan keberanian kepada anak-anak untuk hadir kembali ke rumah ke dua mereka yakni sekolah.
Janji pagi untuk sekolah, siang gempa datang lagi......
Tidak ada komentar:
Posting Komentar