Minggu, 24 Maret 2024

Langkah Awal CGP Angkatan 10

 Oleh Nuraini

Dokumen Pribadi

Sekolah Dasar Negeri 1 Dasan Tereng, merupakan salah satu sekolah penyelenggara program sekolah penggerak. Dalam kapasitasnya sebagai sekolah penggerak, Kepala sekolah mempunyai ekspektasi bahwa di sekolahnya harus ada gurunya yang mendaftar dan lulus sebagai  guru penggerak.

Memuluskan pencapaian ekspektasi itu, Nuraini selaku Kepala SDN 1 Dasan Tereng berupaya agar ekspektasinya tentang keberadaan guru penggerak di sekolahnya terwujud dengan berbagai trik.  Memulai dengan memotivasi dan memberikan dukungan maksimal kepada guru di sekolanya yang  memenuhi persyaratan untuk mendaftarkan diri sebagai calon guru penggerak. Pendampingan pun dilakukan mulai dari mendaftar, penyelasaian cv, uploud dokumen sampai pada pengerjaan essai. Tidak hanya itu, pengalamannya saat wawancara calon Kepala Sekolah Penggerak pun ia bagi pada gurunya yang menjadi Calon Guru Penggerak. 

Keinginan atau harapannya kini terwujud. Dua orang guru dari 4 orang yang mendaftar lulus pada seleksi calon guru penggerak angkatan 10 setelah 1 orang gurunya  lulus CGP angkatan 6. 

Dokumen Pribadi

Rabu, 06 September 2023

Aizsa Menyapa di Idul Adha

 Oleh Nuraini

Kegiatan Sapa Aizsa, Aizsa Menyapa merupakan induk kegiatan keagamaan di SDN 1 Dasan Tereng. Kegiatan ini menaungi banyak kegiatan keagamaan yang dilaksanakan oleh seluruh warga sekolah. Baik itu kegiatan intern sekolah maupun kegiatan yang melibatkan masyarakat sekitar. Kegiatan yang dilaksanakan di intern sekolah seperti kegiatan rutin pembinaan iman dan takwa yang dilaksanakan setiap hari Jum'at minggu ke 1, 2 dan 3. Sedangkan hari Jum'at minggu terakhir digunakan untuk kegiatan Jum'at bersih. 

Di samping kegiatan pembinaann iman dan takwa, Sapa Aizsa juga bergerak dalam bidang sosial seperti menjenguk siswa yang sakit, melayat pada warga sekitar yang meninggal dunia dan memberikan santunan kepada korban bencana alam, anak yatim,  piatu, yatim-piatu dan orang tua jompo. 

Pada bulan Ramadhan, Sapa Aizsa bergerak dalam bidang Bazis (badan amil zakat infak dan sadakoh)  yakni pengunpulan dan penyaluran kembali zakat fitrah, amal, infak dan sadakoh yang berasal dari siswa kepada anak yatim, piatu dan yatim piatu serta kepada warga sekitar yang berhak menerima. Penyakuran diatur sedemikian rupa sehingga penyaluran menjadi tepat sasaran. (sistem penyaluran akan ditulis berikutnya) 

Dalam kegiatan peringatan hari besar agama, bagian dari kegiatan Aizsa adalah memperingati maulid Nabi Besar Muhammad SAW dengan tidak mengurangi nilai keagamaan, kegiatan peringatan kelhairan Nabi Besar Muhammad SAW di SDN 1 Dasan Tereng juga bernuansa kearifan lokal (simak cara penyajiannya pada tulisan berikutnya, juga sudah dipublish di chanel youtub nuraini ahwan) . Peringatan maulid melibatkan melibatkan wali murid., Isra' dan mi'raj serta peringatan tahun baru Islam.

Tidak hanya itu, program  Sapa Aizsa pada bulan Idul Adha juga  mengadakan penyembelihan hewan kurban.

Bulan Zulhijjah tahun 1444 H, SDN 1 Dasan Tereng melalui kegiatan Sapa Aizsa dan Aizsa Menyapa mampu menyiapkan 2 ekor sapi untuk di sembelih. Ini prestasi yang luar biasa menurut hemat saya. Bagaimana setelah penyembelihan? Simak pada tulisan berikutnya.  Mengapa?

Tidak mudah untuk menggerakkan seluruh siswa sehingga sampai pada tercapainya cita-cita awal yakni membuat program Sapa Aizsa, Aizsa Menyapa menjadi sebuah gerakan bersama. 

Kesabaran, komitmen dan kerjasama seluruh pendidik dan tenaga kependidikan yang mampu mengawal kegiatan Aizsa sampai seperti ini. 




Kamis, 20 April 2023

Aizsa Menyapa di Bulan Ramadan

 Oleh Nuraini 

SDN 1 Dasan Tereng dengan Branding Sdensa Santer Apik, berusaha membuat semua menjadi APIK.

"Aizsa menyapa," begitu judul tulisan saya kali ini. Tulisan yang di dalamnya berisi tentang kegiatan  di SDN 1 Dasan Tereng pada bulan Ramadan. Aizsa bukanlah nama orang melainkan akronim dari induk sebuah program yang dilaksanakan di SDN 1 Dasan Tereng. Merupakan  sebuah induk kegiatan, tentu mempunyai banyak kegiatan yang bernaung di bawahnya atau di dalamnya.  

"Aizsa," adalah singkatan dari amal, infak, zakat dan sadakah.  Program ini merupakan program yang berasal dari,  oleh   siswa dan warga sekolah  untuk siswa, warga sekolah dan warga sekitar.

SDN 1 Dasan Tereng memberikan nama program ini dengan nama,"Sapa Aizsa, Aizsa Menyapa." Program ini awalnya bernama ,"Aizsa 100," namun karena dampaknya dirasakan sangat besar, antusiasme warga sekolah dipandang besar untuk mendukung program ini dan kebermanfatannya juga menyentuh banyak orang, termasuk masyarakat, maka program ini diberi nama,"Sapa Aizsa, Aizsa Menyapa."

Pada bulan Ramadan ini, Aizsa menyapa dengan kegiatan menerima dan menyalurkan  zakat fitrah,  infak  dan sadakah serta memberikan santunan kepada anak yatim, piatu, yatim piatu dan anak tidak mampu.  Kegiatan ini sudah berjalan setiap tahun dan sudah terprogram dengan baik.

Dalam penyaluran,  sekolah bekerja sama dengan Kepala Dusun yang menjadi  sumber murid. Ada 3 dusun yang menjadi sasaran. Setiap dusun melalui Kepala Dusun diberikan kupon untuk disebarkan ke wilayah masing-masing. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan bahwa Kepala Dusun lebih mengetahui  warganya yang berhak menerima. Jumlah kupon yang diterima setiap dusun berbeda  sesuai dengan luas wilayah dan jumlah siswa. 

Selanjutnya,  penerima kupon datang sendiri mengambil zakat dengan membawa kupon yang sudah diberikan oleh Kepala Dusun. 

Puncak kegiatan adalah pada peringatan Nuzulul Qur'an yang dilaksanakan   pada hari Selasa, 18 April 2023. Pada peringatan Nuzulul Qur'an, rangkaian kegiatan dimulai pada pukul 17.00 wita dengan kegiatan pembacaan Kalam Ilahi, laporan dari Kepala Sekolah, Sambutan Ketua Komite, kultum, buka puasa bersama, sholat tarawih, dan santunan kepada anak yatim, piatu, yatim piatu dan anak tidak mampu. 






Dalam laporannya, Kepala SDN 1 Dasan Tereng menyampaikan bahwa kegiatan Nuzulul Qur"an merupakan puncak kegiatan AIZSA pada bulan Ramadan tahun 2023 M/1444 H. Sebelumnya,  SDN 1 Dasan Tereng selama bulan Ramadan melaksanakan kegiatan ONE DAY ON JUZ ONE GRUP atau ODOJOG,  dan melalui panitia Aizsa telah melaksanakan penerimaan dan penyaluran zakat fitrah,  infak dan sadakah. Penyalurannya dilaksanakan selama 2 hari yakni tanggal 17 dan 18 April 2023. Dokumentasi penyaluran  bisa disimak pada akun youtube  milik Kepala Sekolah (chanel nuraini ahwan)





Sementara, tentang kegiatan nuzulul Qur'an ini , dilaporkan baru pertama kali dilaksanakan malam hari.  Akan diusahakan selanjutnya dilaksanakan malam hari dengan koordinasi dan perencanaan yang matang dengan semua unsur masyarakat,  mengingat letak sekolah di sisi jalan yang lalu lintasnya sangat ramai.

Pada kegiatan ini, diundang Kepala Desa, Kadus, Ketua Komite, guru dan tentu siswa-siswi khususnya kelas 6.  

Banyak nilai keteladanan dan pembiasaan  baik yang bisa diambil oleh siswa-siswi melalui program,"Sapa Aizsa, Aizsa Menyapa," ini. Dalam kaitannya dengan profil Pelajar Pancasila ada dimensi yang berhubungan  dengan kegiatan ini. Dimensi Beriman, bertakwa  Kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia,  dimensi Bergotong royong juga terekam menjadi pembiasaan mulai dari awal kegiatan ini.






Harapan kegiatan ini bisa berlanjut dan menyentuh  banyak orang. 

Lombok, 19 April 2023.


Senin, 06 Maret 2023

Sapa Aizsa ( Part 18)

 Aisyah menyapa dengan ucapan salam."Assalamualikum Warahmatullahi Wabarakatuh."

Tentu teman-temannya akan menjawab," Waalaikum salam warahtaullahi wabarakatuh."

Tetapi tidak dengan Aizsa. Dia hanya diam saja tidak menjawab salam yang diberikan anak-anak. Salam anak-anak tidak terdengar karena salamnya tidak dalam bentuk ucapan atau kata-kata. Salam anak-anak kepada Aizsa adalah dengan perbuatan.

Ketika kepala sekolah mengingatkan anak-anak untuk menyapa Aizsa, maka bukan ucapan yang menjadi respon anak-anak terhadap suruhan kepala sekolah. Yang anak-anak lakukan adalah merogoh saku celana atau baju untuk mengambil gopek lalu memndekat ke Aizsa. Aizsa bukanlah orang yag bisa langsung mengucapkan terima kasih kepada anak-anak yang menyapanya. Aizsa adalah sebuah kotak  yang bertuliskan namanya di samping. Namanya adalah Aizsa 100. 

Aizsa akronim dari Amal, infak, zakat dan sadakah. 

"Mari anak-anak, sapa Aizsa."begitu kalimat ajakan yang disampaikan ke anak-anak pada Jum'at pagi usai pelaksanaan kegiatan imtak. Anak-anak sudak paham dengan pengumuman atau penyebutan nama Aizsa.  Akan lebih nyaman mengajak anak-anak untuk melakukan kegiatan ini dengan mengajak mereka menyapa Aizsa daripada terdengar di pengeras suara atau toa sekolah kalimat ajakan seperti,"Mari anak-anak, isi kotak amal dengan infak, sadakah."

Anak-anak menyapa Aizsa tanpa disuruh guru. Bahkan tidak hanya hari Jum'at mereka menyapa Aizsa, hari-hari lain pun Aizsa selalu mereka datangi. Ketika anak-anak menemukan uang yang jatuh atau sebab lain maka uang itu diserahakan ke sekolah. Pihak sekolah mengumumkan siapa yang kehilangan uang. Jika setelah diumumkan tidak ada yang mengambil atau mencari maka uang itu dimasukkan ke kotak Aizsa.

Aizsa setidaknya membantu...anak-anak yang sakit, korban bencana alam atau untuk kegiatan keagamaan lainnya. 

Bersama Aizsa kita bisa....

Minggu, 26 Februari 2023

Karena Aisyah Aku Ada di Sini ( Aisyah Part 16)

 Karena Aisyah Aku Ada.

Judul tulisan ini sen0da dengan judul tulisan saya sebelumnya yakni Aisyah sebagai salah satu sumber ide munculnya banyak program yang dilaksanakan di sekolah.

Masih lekat diingatan kejadian yang menimpa bumi Lombok dan Sumbawa tahun 2018 lalu. Bencana besar yang amat dahsyat meluluhlantakkan bumi Lombok dan Sumbawa. Memporakporandakan gedung, bangunan bahkan peradaban masyarakat. Tangis yang terdengar di mana-mana kala itu. Ketakutan berhari-hari akibat gempa susulan yang seperti berulang minggu terjadi . Sebagai contoh, gempa terjadi hari Kamis, maka Kamis depannya gempa hadir lagi. Ketika listrik padam tiba-tiba, maka sesaat setelah listrik padam terjadilah gempa. Gempa yang terus-terusan ini membuat masyarakat tidak berani masuk ke dalam rumah mereka yang masih tersisa. Masyarakat lebih memilih tinggal di pengungsian agar lebih aman.

Sekolah diliburkan sampai batas waktu yang tidak ditentukan begitu terjadi gempa berkekuatan 6,4 Mw, jenis sesar naik dengan kedalam 24 km (15 ml) bulan 29 Juli 2018. Gempa susulan terjadi sebanyak 524 kali.(id.m.wikipedia.org). Sekolah menjadi sepi, tidak terjadi pembelajaran sampai batas waktu yang tidak ditentukan saat. itu. Pengecekan terhadap kondisi sekolah segera dilakukan untuk memberikan laporan kepada pihak terkait yakni Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Pengecekan ini dimaksudkan untuk memastikan sekolah aman digunakan untuk belajar anak-anak ketika keadaan sudah normal kembali. Gempa susulan tidak terjadi lagi.

Ketakutan ternyata tidak dialami oleh anak-anak saja. Orang tua justru lebih takut jika anak-anak mereka sekolah saat itu. Pemerintah daerah sudah memperbolehkan anak-anak untuk sekolah, namun sekolah masih tetap saja sepi sampai beberpa bulan sejak kejadian gempa. Bagimana tidak, meskipun pemerintah sudah menyatakan aman untuk anak-anak bersekolah, masih saja terjadi gempa susulan meskipun instensitasnya tidak sesering bulan Juli dan Agustus. Kekuatannya juga tidak seperti ketika gempa pertama dan susulan kedua datang. Namun karena trauma membuat orang tua sangat khawatir dan ketakutan

Berbagai upaya yang dilakukan sekolah untuk mempersiapkan dan menyambut anak-anak datang ke sekolah, namun sekolah tetap saja sepi. Pro dan kontra dari orang tua terjadi. Ada orang tua yanga mengatakan kepada pihak sekolah,"Jika terjadi apa-apa dengan anak saya, apakah sekolah mau bertanggung jawab?" Banyak lagi suara-suara miring yang ditujukan kepada sekolah waktu itu. Situasi seperti ini membuat sekolah mengambil kebijakan, siapa yang berani, yakin dan tidak kahwatir, silahkan putra-putrinya di berikan ke sekolah. Kebijakan ini diberikan sampai masyarakat mendapat edukasi yang tepat.

Kebiasaan untuk berkunjung ke rumah anak-anak membuat saya ingin menjemput anak-anak agar berani kembali ke sekolah.  Saya agendakan saat itu untuk berkunjung ke pengungsian yang dijadikan tempat tinggal oleh orang tua murid bersama keluarganya. Ada beberapa titik pengungsian untuk masyarakat sekitar sekolah. Dari dua desa yang menjadi sumber murid, ada 3 titik pengungsian yang menampung masyarakat. tiga titik itulah yang menjadi sasaran saya berkunjung. 

Apakah saya takut dengan gempa susulan? 

Takut adalah hal yang manusiawi. Tetapi di depan anak-anak dan guru, saya tidak boleh menunjukkan rasa takut. Bagaimana jika saya berterus terang atau bercerita kepada mereka bahwa saya sebenarnya orang yang paling takut., maka mereka akan menjadi lebih takut dari saya. Bisa jadi juga takut menjadi alasan untuk tidak masuk melaksanakan tugas mengajar mereka. Semoga prasangka ini salah.

Saya membuang rasa takut karena tanggung jawab untuk memulihkan keberanian anak-anak untuk masuk sekolah. Saya berusaha menekan semua perasaan takun akibat melihat bagaimanaa rumah saya, di depan mata  seperti bergerak turun naik ketika gempa saat itu. Untuk berkunjung ke pengungsian, perlu persiapan. Saya mempersiapkan segala keperluan yang bisa menarik anak-anak untuk berkumpul. Ransel yang saya pikul, saya penuhi dengan snack kesukaan anak-anak. Depan jok motor, saya penuhi dengan minuman yang disukai anak-anak. Saya akan berpindah tempat dari pengungsian yang satu ke pengungsian yang lain.

Di tempat pengungsian, saya disambut anak-anak. Mereka sangat senang dengan kehadiran saya. Mereka bersorak-sorai kegirangan. Saya meminta salah seorang anak memanggil teman-temanya yang masih dibuai selimut dalam tenda pengungsiannya. Tidak berapa lama, mereka sudah berkumpul di sisi lapangan tempat mereka mengungsi. Anak usia sekolah maupun yang belum sekolah ikut duduk mengitari saya yang masih duduk di pinggir lapangan. Suasana bahagia terpancar dari wajah mereka. Tas yang saya pikul saya turunkan dan letakkan di sisi tempat duduk. Saya sampaikan pada anak-anak bahwa di dalam ransel saya penuh dengan kue, permen dan balon. Ini untuk mereka. KIta akan bermain di lapangan bersama-sama. Siapa saja berhak mendapatkan isi ransel ini. Anak-anak kembali bersorak-sorai sambil bertepuk tangan kegirangan.

Saya mengajak mereka bernyanyi, bertepuk dan saling menceritakan tentang pengalaman mereka di pengungsian. Suka duka mereka selama di pengungsian mereka certitakan. Yang berani bercerita saya berikan hadiah. Anak-anak bergandengan tangan, bernyanyi, berputar-putar sambil sesekali menerikkan kata,"Siap Sekolah."

Kunjungan saya dari pengungsian yang satu ke pengungsian yang lain membuat mereka  siap ke sekolah keesokah harinya.

Pembelajaran dari Aisyah membuat saya ada dan hadir di pengungsian anak-anak. Memberikan sedikit ketenangan hati dan keberanian kepada anak-anak untuk hadir kembali ke rumah ke dua mereka yakni sekolah.

Janji pagi untuk sekolah, siang gempa datang lagi......

Kenangan Aisyah Masih di Sini ( Aisyah Part 15)

Pagi itu, cuaca sangat cerah. Seperti biasa pagi hari di isi dengan kegiatan literasi. Semua anak sudah mengetahui apa yang harus dilakuakn setiap pagi ketika bel sekolah berbunyi. TIdak ada lagi perintah, tidak ada lagi aba-aba tau instruksi dari guru. Pagi pukul 07.00 wita, guru piket sudah membunyikan bel sekolah.

Dari seluruh penjuru sekolah bermunculan anak-anak dengan mengepit buku di ketiak mereka atau membawa seperti cara petugas upacara membawa teks Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.  Mereka tanpa diperinah pula, mengambil tempat duduk di seputaran halaman sekolah yang bisa mereka gunakan sebagai tempat berkegiatan pagi hari. 

Mereka akan melaksanakan kegiatan sekolah yakni,"Libat Guru dan Siswa di 30 Menit Pertama." atau kegiatan literasi baca tulis guru dan siswa di tiga puluh menit pertama sebelum masuk kelas untuk belajar. Tidak hanya anak-anak yang ada di tengah-tengah kegiatan itu, tetapi semua guru mengambil tempat di dekat anak-anak  untuk melakukan kegiatan yang sama. 

Pada kegiatan ini pula, guru kelas satu biasanya menitip anak-anak mereka yang beluam bisa membaca kepada guru lain seperti guru agama, guru penjaskes atau  kepada guru kelas lain untuk membantunya mengajar anak-anak membaca. Guru kelas satu menyebutnya dengan istilah adopsi anak. Bukan adopsi anak untuk menjadi anaknya di rumah tetapi mengadopsi untuk dilatih atau diajar membaca selama tiga puluh menit pada kegiatan "Libat Guru dan Siswa di 30 Menit Pertama." Selanjutnya anak adopsi mereka akan kembali ke kelasnya masing-masing.

Ada kenangan Aisyah di sini. Ketika Aisyah masih di kelas satu, Aisyah selalu didampingi oleh ibunya pada kegiatan literasi pagi. Ibunya selalu mengambil bagian pada kegiatan ini. Tidak hanya ibunya Aisyah, tetapi ibu-ibu https://www.youtube.com/watch?v=6wWYvUGdXEM lain yang menunggu anaknya kala itu, selalu mengambil bagian. Mereka ikut mendampingi anak-anak mereka untuk membaca dan menulis pada kegiatan literasi. 

Aisyah, ibunya dan ibu-ibu yang lain duduk berderet di halaman sekolah mengikuti kegiatan ini.

 


Sabtu, 18 Februari 2023

Aisyah, Ceritanya Masih di Sini ( Aisyah Part 14)

Aisyah  tidak selamanya harus duduk di bangku  sekolah dasar. Saatnya ia harus meninggalkan bangku sekolah dasar. Saya berharap Aisyah akan melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Cita-citanya ingin menjadi guru. Semoga cita-cita Aisyah bisa tercapai....

Aisyah melangkahkan kaki, meninggalkan sekolah dengan berbekal ijazah. Selembar kertas yang menjadi catatan dalam hidupnya. 

Aisyah meninggalkan buku catatan pribadinya pada guru kelas. Buku yang tersurat di dalamnya tentang pribadi Aisyah. Bagi saya,...Aisyah tidak hanya meninggalkan buku yang di dalamnya tersurat tentang dirinya, namun jauh lebih penting dari itu. Aisyah role model sekolah kami, telah meninggalkan pesan dan kesan tersirat kepada teman-temannya. Pembelajaran yang berarti juga bagi saya. 

Aisyah  hidup sederhana bersama orang tuanya yang hanya buruh serabutan menempatkan pondasi agama dan karakter yang baik dalam kehidupannya sehari-hari. Aisyah yang mengingatkan saya untuk tidak hanya berada di sekolah, menerima laporan tentang anak-anak dari guru kelas tetapi harus lebih dekat membaca keadaan anak-anak. Aisyah yang memanggil hati saya untuk turun berkunjung melihat keadaan anak-anak di tempat tinggalnya. 

Dalam tulisan saya sebelumnya, setiap anak mempunyai karakter masing-masing. Role model di sekolah tidak bisa menginspirasi semua anak. Ada saja anak yang kekeh dengan kelakuannya.. Peran guru mengajar bisa berhasil namun ada saja peran mendidik yang tidak seratus persen berhasil. Ada korelasi antara pendidikan di sekolah dengan pendidikan yang diperoleh di rumah seperti di lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat. 

Satu contoh, sekolah tidak pernah mengajarkan anak untuk berkata kotor. Lingkungan sekolah tidak medengarkan perkataan-perkataan kotor. Lalu darimana anak memperoleh kata-kata kotor saat berkelahi dengan temannya. Atau sekolah tidak pernah mengajarkan berkelahi, darimana anak mendapat pembelajaran berkelahi.

Saya terpanggil untuk melakukan kunjungan rumah setelah banyak cerita catatan dari kunjungan ke beberapa teman Aisyah di kampungnya. Jika ada anak yang perilakunya  tidak sesuai dengan yang  diharapkan atau melanggar tata tertib sekolah secara berturut-turut maka membutuhkan penyelesaian dengan orang tua.  Penyelesaian yang memerlukan bantuan atau kerjasama dengan orang tua melalui kunjungan rumah. Saya, guru kelas dan seksi humas yang menjalankan tugas ini. Tidak jarang saya sendiri yang berkunjung ke rumah orang tua sekaligus membonceng anak yang melakukan pelanggaran pulang ke rumahnya. Tentu setelah jam pelajaran usai.

"Ibu yang mengantar kamu pulang, ya!" ucap saya pada seorang anak bernama Kia yang membuat guru kelasnya menangis karena kelakuannya di kelas. Kia takut karena saya yang akan mengantar. Ia tidak mau karena orang tuanya pasti marah. Ia sudah berulangkali melakukan pelanggaran yang membuat orang tuanya marah. 

"Jangan,  Bu Guru. Saya pulang sendiri saja, Bu guru." jawabnya kelihatan ketakutan. Saya mendekati dan berjanji akan memenuhi permintaannya.

"Ya, nanti ibu turunkan kamu di gang rumahmu. Ibu tidak akan masuk rumahmu." begitu janji saya pada Kia sehingga ia mau diantar oleh saya. Menurut teman-temannya, Kia sering dipukul oleh orang tuanya.  Saya semakin penasaran seperti apa kehidupan di keluarga Kia yang membentuk karakternya. 

Mendengar cerita teman-teman Kia, saya menjadi takut jika KIa diantar pulang oleh guru kelasnya. Saya khawatir orang tuanya nanti tidak menerima dan justru marah pada guru saya. 

Saya membonceng KIa pulang ke rumahnya. Sepanjang perjalanan ia menangis di sela-sela ia menjawab pertanyaan saya. Jarak rumahnya dengan sekolah kurang lebih 1 kilometer. Jadi tidak lama saya sudah sampai di gang depan rumahnya. Anak ini hendak turun dari motor sesuai dengan janji saya. Tetapi terpaksa saya mengingkari janji demi bertemu dengan orang tuanya. Begitu Kia mau turun dari motor, saya langsung menghentikannya.

"Diam! Tidak boleh turun. Ibu ingin bertemu dengan orang tuamu." Kia seperti kerbau dicocok hidung. Ia menurut kata-kata saya. 

Begitu sampai depan rumah Kia, saya matikan motor. Kia turun dari motor dan langsung masuk rumah. Sepertinya ia masuk kamar dan tidak keluar lagi.

"Asaalamualaikum arahmatullahi Wabarakatuh!" Salam saya sampaikan ketika melihat ada seorang ibu duduk di berugak (Bangunan bertiang empat, tempat menerima tamu suku sasak).

"Waalaikum salam. Pasti ada masalah yang dilakukan anak saya, Bu." menjawab salam dilanjutkan dengan pertanyaan ditujukan kepada saya oleh ibunay Kia. 

"Tidak! Mengapa ibu bertanya begitu?"

"Ya, selalu saja anak ini  membuat masalah. Kemarin sudah datang pengaduan dari tetangga. Minggu lalu sudah juga datang laporan dari guru kelasnya." Ibu Kia dengan suara parau bercerita tentang anaknya. 

Karena ibu Kia yang mengawali bercerita bahwa anaknya sering membuat masalah termasuk di rumah, maka saya mengiyakan bahwa Kia membuar masalah di sekolah. Saya menjelaskan panjang lebar tentang apa yang dilakuka Kia di sekolah. Kelakuan Kia membuat guru kelasnya menangis termasuk saya. Saya merasa gagal mendidik anak ini di sekolah. Kepada orang tua Kia, saya meminta agar masalah perbaikan perilaku Kia ini menjadi tanggung jawab kita bersama. Saya juga memukul Kia, karena ia masih anak-anak. Mungkin karena pergaulannya di lingkungan rumah, masyarakat dan pengawasan orang tua yang kurang inten terhadap pergaulan Kia. 

Saya hanya bertemu dengan ibunya Kia. "Bapaknya Kia, mana?"tanya saya pada ibunya Kia yang masih mengusap matanya. Ia berbicara tanpa melihat ke arah saya. Tatapannya kosong seperti penuh kemarahan dan kesedihan. Kekecewaan tampak dari raut mukanya dan sikapnya ketika berbicara dengan saya. 

Ibu Kia menunjuk ke arah bangungan beratap seng, semacam garasi tempat parkir. Ada dua  buah sepeda motor terparkir di sana. Pandangan saya arahkan ke tempat yang ditunjukkan ibunya kita.

Seorang laki-laki yang saya jumpai pertama ketika saya baru datang. Lelaki itu pula yang mempersilahkan saya duduk tanpa bertanya saya mencari siapa. Ia langsung memanggil istrinya (ibunya Kia) untuk  menemani saya.

Lelaki bertumbuh tambun mengenakan celana jeans yang dipotong selutut. Ia tidak mengenakan baju sehingga perutnya yag buncit dengan kulit hitam tampak jelas terlihat. Ada perasaan takut ketika saya baru tiba di rumah Kia. Ternyata lelaki itu adalah ayahnya Kia,

Sepanjang saya berbicara dengan ibunya Kia, ayah Kia sibuk dengan kegiatannya. Ia sedang membersihkan sepeda motornya. Ia tak sedikitpun menghampiri saya apalagi bertanya tentang keperluan saya datang ke rumahnya. Mungkin ia tahu bahwa saya datang adalah terkait dengan perilaku anaknya seperti cerita ibunya Kia.

Tidak lama berselang. lelaki itu mmengambil handuk dan masuk rumahnya.

"Dar! Jeplak! Jeblak!" suara terdengar dari dalam rumah. 

Saya kaget, karena begitu ayahnya Kia masuk rumah dan tidak tampak lagi dari luar, suara itu terdengar dari dalam rumah. Suara tangis juga terdengar dari dalam rumah.

"Ibu, tadi sudah saya katakan, Kia jangan dipukul! Ijinkan saya masuk ke dalam rumah ibu."

Tanpa menunggu jawaban ibunya Kia, saya langsung lari masuk rumah. Saya lihat Kia yang membungkuk memegang lututnya menangis memohon ampun pada ayahnya. Wajah ketakutannya tampak jelas. Kia dipukul ayahnya menggunakan handuk. Ayahnya memukul tanpa berkata apa-apa. Mungkin sudah kecewa yang berlebihan.

"Saya mohon, Pak! Jangan pukul Kia. Kia perlu pendampingan dari kita." saya mendekati ayahnya Kia yang bertumbuh tambun itu. Saya tidak merasa takut sedikit pun. Saya memohon dengan suara terbata-bata karena saya menangis. Saya mengepit kedua tangan, memohon agar Kia tidak dipukul lagi. 

"Ini anak, tidak ada kapoknya! Selalu saja membuat orang tua malu." umpatan kekecewaan bapaknya Kia diluapkan di depan saya. Memang benar juga, Kia tidak kali ini saja berbuat tidak baik di sekolah. Karena berulang kali itulah yang membuat saya ingin sekali bertemu orang tua Kia.

Setelah emosi bapaknya Kia mereda, saya ke luar rumah. Saya duduk kembali di berugak bersama ibunya Kia. Saya ingin pamit pulang membawa cerita dari rumah Kia. Sebelum pulang ada cerita menyedihkan lagi yang saya dapatkan di rumah Kia. Ibu Kia bercerita, Kia bukan anak kandungnya. Kia diambil menjadi anak angkatnya sejak bayi. 

Saya berpikir, jika Kia diangkat menjadi anak sejak bayi. lalu Kia berperilaku seperti ini, pola pendidikan seperti apa yang didapatkan dari rumahnya? Apakah pola asuhnya yang salah? 

Saya pulang dengan beragam pertanyaan dalam benak saya. Sepanjang perjalanan, semua yang terjadi dan yang saya lakukan menjadi bahan renungan saya.

Bagimanapola asuh yang baik di rumah. Bagaimana pola kerjasama sekolah dan orang tua jika ada satu atau dua anak dalam kum[ulan anak yang jumlahnya ratusan berperilaku lain dari temannya. 

Introspeksi diri.....

Melakukan tindak lanjut

Lakukan yang terbaik.

Aisyah pergi,  pembelajarannya masih berlangsung...




Langkah Awal CGP Angkatan 10

 Oleh Nuraini Dokumen Pribadi Sekolah Dasar Negeri 1 Dasan Tereng, merupakan salah satu sekolah penyelenggara program sekolah penggerak. Dal...