Kamis, 16 Februari 2023

Aisyah, Fikri dan Tasya (Aisyah Part 13)

Anak tidak semuanya sama. Halnya dengan Aisyah yang saya jadikan role model di sekolah,tidak semua anak terinspirasi dari perilaku Asiyah. Ada saja anak yang tetap dengan perilakunya sendiri. Perilaku yang tidak sesuai dengan yang diharapkan. Tidak heran, jangankan anak yang berasal dari budaya dan lingkungan berbeda, anak yang berasal dari satu garis keturunan pun bisa mempunyai perilaku yang berbeda. Ibarat buah dari pohon yang sama, ada yang rasanya manis, ada yang rasanya asam. Contoh juga, buah pisang, dalam rumpun dan induk yang sama, namun buahnya ada yang hadap utara, selatan timur dan barat. 

Itulah gambaran anak-anak yang ada di sekolah.

Kunjungan ke rumah anak - anak yang tidak masuk sekolah mulai dari lingkungan tempat tinggal Aisyah mempunyai cerita tersendiri bagi saya. Dari rumah Aisyah sampai ke rumah Fikri. Ternyata anak-anak yang tidak masuk dan ketahuan oleh guru yang mendatangi rumahnya penuh  kisah perjuangan. Awalnya seperti termehek-mehek pada cerita di salah satu stasiun televisi swasta. 

Begitu saya tiba di salah satu rumah anak yang tidak masuk, anak yang saya cari lari tunggang langgang keluar dari jendela rumahnya......

Hai!

Mengapa berlari.....

Waduh,......saya mau bertemu, anaknya justru berlari menjauh. Padahal tidak akan dikenai sanksi apapun. Saya akan mengajaknya ngorbrol dari hati ke hati......

Dari rumah Aisyah, ke rumah Fikri berlanjut ke rumah anak yang lain. 

Pagi itu, jam pelajaran dimulai. Aktivitas berdoa, sarapan bersama dan kegiatan sapa Aisya sudah selesai dipimpin oleh ketua kelas. Saya masuk ke kelas itu karena guru kelasnya tidak masuk, ia cuti usai melahirkan.  Saya menyapa anak-anak yang saya kenal satu persatu. Tiba pada anak yang terakhir. Saya hitung jumlah anak yang tertera pada absen dan jumlah riil anak-anak yang ada di depan saya. 

Jumlah yang hadir tidak sesuai dengan nama yang tertera pada buku absen. Ketika saya menghitung jumlah anak, ketua kelas melaporkan ada anak yang tidak masuk. Anak ini sering tidak masuk tanpa keterangan.  Dalam satu minggu, pasti ada tidak masuknya. Satu hari, dua hari, tiga hari dan ini hari keempat ia tidak masuk. Namanya Tasya

Saya lalu mengambil secarik kertas. Saya tanya alamat lengkap Tasya. Karena di kampung tidak ada nama jalan bahkan gang pun jarang, maka saya tanyakan rumah Tasya sebelah mananya masjid, sebelah mana toko besar, sebelah mana tempat hidran umum dan keterangan lainnya yang mendukung. 

Woww...saya tambah kenal dengan seluruh warga kampung, meskipun tidak anak anaknya yang sekolah di tempat kami karena sering berkunjung. 

Belum selesai pertanyaan saya tentang alamat kepada teman sekelasnya Tasya, guru agama Islam masuk. Rupanya hari itu ada jam pelajaran agama. Di samping sebagai guru agama, ia juga bagian kesiswaan di sekolah. Ia juga sering saya ajak untuk kunjungan rumah. 

Rumah Tasya tidak susah di cari, berbekal secarik kertas tadi. Tetangga Tasya yang anaknya juga sekolah di tempat kami membantu menunjukkan jalan. Saya bisa bertemu dengan orang tua Tasya.

Seorang lelaki tua keluar dari dalam rumah begitu mendengar suara saya dan tetangga Tasya. Lelaki mengalungkan handuk kecil di leher seperti orang selesai olahraga. Tetapi bukan, lelaki itu berjalan dengan memegang tembok rumahnya. Ia kurang penglihatan. Ia adalah kakeknya Tasya.

Kakek Tasya mempersilahkan saya duduk di ruang tamunya sekaligus menjadi ruang keluarga mereka. Saya duduk di lantai semen tanpa alas apapun. Orang tua Tasya tidak keluar rumah. Apakah mereka bekerja? Pikir saya. Saya bertanya pada kakek Tasya. 

"Ibu Tasya, masih tidur. Bapaknya Tasya nikah lagi karena sudah berpisah dengan ibunya."kakek Tasya menjelaskan.

Tak lama berselang, ibu Tasya keluar kamar. Katanya ia tidak enak badan. Tasya belum bangun, ia juga tidak enak badan. Ia sakit, ibu Tasya menjelaskan. 

Saya kasihan dengan lelaki tua yang ada di depan saya. Di usianya yang tua seperti ini, ia tidak harus susah lagi. Anak perempuannya sudah berpisah dengan suaminya. Setelah berpisah dengan suaminya, ia tidak punya pekerjaan. Hanya berdiam diri di rumah. Lalu untuk kebutuhan sehari-hari bagaimana? 

"Ibu jangan pasrah dengan keadaan. Lihat Tasya, sudah berapa hari tidak sekolah dan sering tidak sekolah.  Sekarang tidak sekolah lagi. Kasihan Tasya! ibu. Ibu harus bisa menjadi contoh seperti bangun lebih pagi! Coba lihat, banyak orang sukses meskipun orang tuanya berpisah dua-duanya! Maaf, saya bermaksud saling mengingatkan."

Tasya tidak keluar rumah dari awal  datang sampai saya pulang. Saya hanya berpesan supaya Tasya masuk sekolah esok hari. Jika tidak, apa yang akan di lakukan di rumah pada jam teman-temannya belajar di sekolah. Siapa juga temannya bermain, sementara semua temannya berada di sekolah semua. 

Begitu cerita di kampung Aisyah,..

Masih ada cerita lagi, tentang saya yang menangis , memohon kepada orang tua anak atau murid demi anaknya......

2 komentar:

Langkah Awal CGP Angkatan 10

 Oleh Nuraini Dokumen Pribadi Sekolah Dasar Negeri 1 Dasan Tereng, merupakan salah satu sekolah penyelenggara program sekolah penggerak. Dal...