Kamis, 16 Februari 2023

Aisyah, Fikri dan Tasya (Aisyah Part 13)

Anak tidak semuanya sama. Halnya dengan Aisyah yang saya jadikan role model di sekolah,tidak semua anak terinspirasi dari perilaku Asiyah. Ada saja anak yang tetap dengan perilakunya sendiri. Perilaku yang tidak sesuai dengan yang diharapkan. Tidak heran, jangankan anak yang berasal dari budaya dan lingkungan berbeda, anak yang berasal dari satu garis keturunan pun bisa mempunyai perilaku yang berbeda. Ibarat buah dari pohon yang sama, ada yang rasanya manis, ada yang rasanya asam. Contoh juga, buah pisang, dalam rumpun dan induk yang sama, namun buahnya ada yang hadap utara, selatan timur dan barat. 

Itulah gambaran anak-anak yang ada di sekolah.

Kunjungan ke rumah anak - anak yang tidak masuk sekolah mulai dari lingkungan tempat tinggal Aisyah mempunyai cerita tersendiri bagi saya. Dari rumah Aisyah sampai ke rumah Fikri. Ternyata anak-anak yang tidak masuk dan ketahuan oleh guru yang mendatangi rumahnya penuh  kisah perjuangan. Awalnya seperti termehek-mehek pada cerita di salah satu stasiun televisi swasta. 

Begitu saya tiba di salah satu rumah anak yang tidak masuk, anak yang saya cari lari tunggang langgang keluar dari jendela rumahnya......

Hai!

Mengapa berlari.....

Waduh,......saya mau bertemu, anaknya justru berlari menjauh. Padahal tidak akan dikenai sanksi apapun. Saya akan mengajaknya ngorbrol dari hati ke hati......

Dari rumah Aisyah, ke rumah Fikri berlanjut ke rumah anak yang lain. 

Pagi itu, jam pelajaran dimulai. Aktivitas berdoa, sarapan bersama dan kegiatan sapa Aisya sudah selesai dipimpin oleh ketua kelas. Saya masuk ke kelas itu karena guru kelasnya tidak masuk, ia cuti usai melahirkan.  Saya menyapa anak-anak yang saya kenal satu persatu. Tiba pada anak yang terakhir. Saya hitung jumlah anak yang tertera pada absen dan jumlah riil anak-anak yang ada di depan saya. 

Jumlah yang hadir tidak sesuai dengan nama yang tertera pada buku absen. Ketika saya menghitung jumlah anak, ketua kelas melaporkan ada anak yang tidak masuk. Anak ini sering tidak masuk tanpa keterangan.  Dalam satu minggu, pasti ada tidak masuknya. Satu hari, dua hari, tiga hari dan ini hari keempat ia tidak masuk. Namanya Tasya

Saya lalu mengambil secarik kertas. Saya tanya alamat lengkap Tasya. Karena di kampung tidak ada nama jalan bahkan gang pun jarang, maka saya tanyakan rumah Tasya sebelah mananya masjid, sebelah mana toko besar, sebelah mana tempat hidran umum dan keterangan lainnya yang mendukung. 

Woww...saya tambah kenal dengan seluruh warga kampung, meskipun tidak anak anaknya yang sekolah di tempat kami karena sering berkunjung. 

Belum selesai pertanyaan saya tentang alamat kepada teman sekelasnya Tasya, guru agama Islam masuk. Rupanya hari itu ada jam pelajaran agama. Di samping sebagai guru agama, ia juga bagian kesiswaan di sekolah. Ia juga sering saya ajak untuk kunjungan rumah. 

Rumah Tasya tidak susah di cari, berbekal secarik kertas tadi. Tetangga Tasya yang anaknya juga sekolah di tempat kami membantu menunjukkan jalan. Saya bisa bertemu dengan orang tua Tasya.

Seorang lelaki tua keluar dari dalam rumah begitu mendengar suara saya dan tetangga Tasya. Lelaki mengalungkan handuk kecil di leher seperti orang selesai olahraga. Tetapi bukan, lelaki itu berjalan dengan memegang tembok rumahnya. Ia kurang penglihatan. Ia adalah kakeknya Tasya.

Kakek Tasya mempersilahkan saya duduk di ruang tamunya sekaligus menjadi ruang keluarga mereka. Saya duduk di lantai semen tanpa alas apapun. Orang tua Tasya tidak keluar rumah. Apakah mereka bekerja? Pikir saya. Saya bertanya pada kakek Tasya. 

"Ibu Tasya, masih tidur. Bapaknya Tasya nikah lagi karena sudah berpisah dengan ibunya."kakek Tasya menjelaskan.

Tak lama berselang, ibu Tasya keluar kamar. Katanya ia tidak enak badan. Tasya belum bangun, ia juga tidak enak badan. Ia sakit, ibu Tasya menjelaskan. 

Saya kasihan dengan lelaki tua yang ada di depan saya. Di usianya yang tua seperti ini, ia tidak harus susah lagi. Anak perempuannya sudah berpisah dengan suaminya. Setelah berpisah dengan suaminya, ia tidak punya pekerjaan. Hanya berdiam diri di rumah. Lalu untuk kebutuhan sehari-hari bagaimana? 

"Ibu jangan pasrah dengan keadaan. Lihat Tasya, sudah berapa hari tidak sekolah dan sering tidak sekolah.  Sekarang tidak sekolah lagi. Kasihan Tasya! ibu. Ibu harus bisa menjadi contoh seperti bangun lebih pagi! Coba lihat, banyak orang sukses meskipun orang tuanya berpisah dua-duanya! Maaf, saya bermaksud saling mengingatkan."

Tasya tidak keluar rumah dari awal  datang sampai saya pulang. Saya hanya berpesan supaya Tasya masuk sekolah esok hari. Jika tidak, apa yang akan di lakukan di rumah pada jam teman-temannya belajar di sekolah. Siapa juga temannya bermain, sementara semua temannya berada di sekolah semua. 

Begitu cerita di kampung Aisyah,..

Masih ada cerita lagi, tentang saya yang menangis , memohon kepada orang tua anak atau murid demi anaknya......

Rabu, 15 Februari 2023

Fikri dan Aldi di Kampung Aisyah (Part 12)

 Aisyah.

Aisyah telah membuka mata hati saya. Aisyah telah membawa saya rutin melakukan kunjungan ke rumah anak-anak yang perlu mendapat perhatian.

Kali ini, kegiatan pembinaan iman dan takwa atau Imtak dilaksanakn di sekolah. Kegiatan diawali dengan sholat duha berjamaah. Tampak anak-anak sudah mulai berkativitas sejak pagi, matahari belum bersinar terik. Ada yang menyapu halaman, ada yang menyiapkan alas sholat dan ada yang menyiapkan meja tempat penitipan iqra' dan Al Qur'an yang akan dibaca ba'da sholat duha. Sementara guru yang bertugas sebagai koordinator imtak memutarkan pembacaaan ayat suci dan lagu-lagu Islami sebelum bel kegiatan Imtaq di mulai.

Pemandangan menarik yang saya saksikan adalah barisan antri wudu'. Karena banyaknya anak, persiapan sandal jepit tidak mencukupi. Pemandangan menarik ketika ada anak yang menggendong adik kelasnya yang tak punya sandal. Tidak hnay satu anak tetapi lebih yang melakukan hal itu. Sejuk sekali hati saya ketika melihat siswa pandai antri dan membantu temannya.

Saya sering mengatakan pada anak-anak,"Jangan suka menerobos barisan antre, karena itu menjadi cikal bakal orang yang suka mengambil hak orang lain. Jika ini dibiarkan akan menjadi cikal bakal korupsi."

Saya juga sering mengatakan bahwa saya lebih bangga anak-anak bisa antre daripada pintar matematika. Matematika bisa dilatihkan dengan cepat anak-anak bisa, tetapi kenyataannya antre ini sangat sulit dibudayakan bahkan bisa jadi sampai tamat sekolah atau sampai dewasa.

Ketika kegiatan imtak sampai pada kegiatan ceramah, saya memperhatikan jumlah anak sedikit lengang dalam shap sholat, saya bertanya siapa yang tidak masuk kepada tiap-tiap ketua kelas. Dari jawaban mereka, saya mendapatkan informasi bahwa ada dua anak yang tidak masuk. Anak itu sekampung dengan Aisyah. Fekri dan Aldi

Saya meninggalkan kegiatan imtak untuk mencari dua anak yang tidak masuk tersebut. Tidak butuh waktu yang lama karena sebelumnya saya sudah beberapa kali melakukan kunjungan ke kampung itu. Menemukan rumah fikri juga tidak sulit. Warga kampung menunjukkan rumah Fikri. Fikri tinggal bersama neneknya. Ibu fikri sudah berpisah dengan bapaknya. Lagi-lagi.......anak korban perpisahan orang tuanya.

Mendengar saya datang, seorang nenek keluar dari rumah dan menemui saya. Banyak hal tentang Fikri yang saya peroleh dari neneknya. Perasaan iba kembali merasuki saya. Bagaimana tidak, untuk makan sehari-hari saja nenek ini mengalami kesulitan. Orang tua Fikri sibuk dengan keluarga baru mereka masing-masing.

Saya bertanya,"Mana Fikri? 

Jawaban neneknya dengan berbagai alasan dan keluhan disampaikan pada saya. Fikri masih tidur. Ia tidak tahu bahwa Fikri sudah berlari keluar kamar ketika mendengar saya mencarinya dan  akan membawanya ke sekolah.

"Nek, Nenek tidak  lihat, Fikri  lari tadi keluar lewat jendela?"

"Nah. itulah dia, Bu!" Saya saja kesulitan membangunkannya, susah, Bu!" ucap nenek Fikri.

Saya gagal membawa Fikri hari itu ke sekolah. Besok Fikri akan sekolah, janji neneknya pada saya.

Kunjungan untuk mencari anak yang main-main di rumah pada saat temannya belajar di sekolah sudah menjadi kegiatan rutin saya lakukan. Kegiatan ini bermaksud supaya jangan ada anak yang tidak sekolah dengan sebab yang tidak penting.




Selasa, 14 Februari 2023

Cerita di Kampung Aisyah ( Part 11)

 Aisyah,....

Berkunjung ke rumahmu, membuat saya punya banyak cerita.  Tentu bukan cerita tentang Aisyah saja tetapi tentang teman-teman Aisyah yang tinggal dalam satu kampung dengan Aisyah. Aisyah yang hidup sederhana bersama orang tuanya, demikian juga dengan teman-temannya. Sepanjang pengamatan saya sewaktu berkunjung ke tempat Aisyah, rata-rata memiliki kehidupan setara dengan Aisyah. Bahkan ada yang kurang dari Aisyah. 

Mata saya nanar , ketika pandangan saya tertuju di salah satu rumah. Rumah itu ternyata rumah anak yang sekolah di tempat saya. Saya mendekat di gang tepat depan rumah tersebut. Ternyata bukan satu rumah, tetapi tiga rumah yang berdempetan saling berhadapan dan tidak punya halaman. Nyaris tidak ada sinar matahari yang masuk. Apakah rumah itu dihuni oleh satu keluarga atau lebih? Pertanyaan itu ada dalam benak saya. Saya masih berada di atas sepeda motor yang saya berhentikan  di depan gang sebelum sampai di rumah Aisyah. 

Saya menjadi penasaran ketika saya melihat anak usia sekolah pada jam 09.00 berada di rumah? Lagi-lagi pertanyaan muncul dalam benak saya. Apakah anak ini tidak sekolah? Apakah anak ini sekolah di tempat saya? Apakah anak ini sakit? Apakah anak ini dibiarkan saja tidak sekolah oleh orang tuanya? Bermacam pertanyaan di hati saya sebelum saya menuju ke anak tersebut.

Saya turun dari sepeda motor dan melangkah ke arah anak tersebut di rumah yang saya lihat. Tiga rumah yang ada dalam satu komplek tanpa ada sinar matahari masuk dan tanpa halaman. Tiba di rumah itu, saya melihat seorang laki-laki yang saya duga dia adalah orang tua anak yang tidak sekolah tadi. Saya tidak mengenali anak tersebut, apakah anak itu sekolah di tempat saya atau tidak mengingat jumlah anak yang tergolong banyak di sekolah. Tapi saya yakin jika ia sekolah maka pastilah ia sekolah di tempat saya. Satu-satunya sekolah yang ada di sekitar kampung Aisyah adalah sekolah saya. 

Melihat saya datang, lelaki paruh baya itu adalah orang tua anak yang saya lihat. Saya bertanya,"Apakah ini putra bapak dan apakah ia sekolah di tempat kami?" Lelaki itu mengiayakan pertanyaan saya. Lalu mengapa ia tidak sekolah? Jawaban yang dapatkan adalah anaknya tidak sekolah karena terlambat bangun. Saya menjadi heran jika anak terlambat bangun pagi, bagaimana dengan Subuhnya? Apakah orang tuanya juga terlambat bangun. Bagaimana dengan Subuh orang tuanya? Astagfirullah....bukan bersuuzhan. 

Keheranan saya bertambah ketika saya berbincang-bincang dengan orang tua di rumah yang saya datangi, keluar masing-masing satu anak dari dua rumah satu komplek. Ya Allah....ucap saya sambil menatap ke arah dua anak yang keluar sambil menggosok-gosok matanya.

'Ini juga , Bu! Dia tidak masuk juga. Katanya libur satu minggu." 

Seorang ibu yang keluar dari dapur menunjuk anak yang baru bangun. Ternyata itu adalah anaknya. 

"Ya Allah, Ibu! Mengapa ibu bisa dibohongi anak, Bu!. Apakah ibu tidak melihat anak-anak yang lain pagi hari ramai memenuhi gang di depan rumah ibu? Anak-anak berseragam merah putih, Bu?" Pertanyaan saya tujukan kepada ibu dan bapak yang ada di rumah itu. 

Guru pertama dan utama bagi anak-anak kita adalah orang tua. 

Saya tidak berlama-lama di rumah itu. Saya jelaskan kepada orang tua tersebut bahwa kegiatan saya di samping berada di sekolah, saya rutin berkeliling ke perkampungan asal anak, asal murid. Tidak secara pemberitahuan, tetapi berifat situasional dan kondisional seperti pada jam-jam anak sudah berada di dalam kelas atau jam sekolah. Jika saya menemukan anak sedang berada di rumah atau saya temukan bermain di kampung pada jam sekolah, maka saat itu juga anak tersebut saya bawa ke sekolah. Saya tunggu mereka mengganti pakaian lalu saya bonceng masuk sekolah.

"Lebih baik terlambat daripada tidak masuk sekolah. tetapi jangan membuat terlambat menjadi kebiasaaan." 

Yang bertanggung jawab meletakkan pondasi kuat kepada anak adalah orang tua dan pendidikan di sekolah. Pondasi pendidikan agama, karakter, akhlak, sosial dan budaya. 

Dari kampung Aisyah, saya berpindah ke kampung anak yang lainnya. Ada saja cerita  yang saya peroleh.  Sebut saja namanya Fikri yang asyik meraut bambu untuk membuat layangan di rumahnya sementara teman-teman seusianya bergelut dengan pelajaran di sekolah. 

Lain Fikri lain pula dengan Adi. Ia berlari kencang keluar kamarnya ketika mendengar saya datang mengucap salam depan pintu rumahnya. 

Ada apa dengan Fkiri dan Adi. Mereka tinggal bersama siap di rumahnya? 

Lombok , Tulisan ke-11





Senin, 13 Februari 2023

Menulis Buku Cerita Digital

 Resume 16

Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) PGRI Gelombang 28

Narasumber  : Nur Dwi Yanti

Moderator     : Dail Ma'ruf

Materi            : Buku Cerita Digital

Pertemuan ke : 16

Tanggal          : 13 Februari 2023

Mengutip chat dalam whatsaap grup KBMN gelombang 28 dari ibu Yandri Novitasari,

"Di era saat ini, Society 5.0 di mana semua konsep masyarakat berpusat dan berbasis pada teknologi. Kecakapan berteknologi digital memegang peran utama di segala bidang, pun dalam literasi. Salah satunya adalah pergeseran paper ke digital. Membaca buku yang biasanya hanya dapat disimak melalui media kertas, sekarang bergeser ke digital. Sebagai guru kita harus"melek" dan belajar tentang teknologi digital."

Kutipan ini merupakan pemantik untuk menuju materi yang akan disampaikan oleh narasumber pertemuan ke 16 KBMN. Ibu Nur Dwiyanti dengan sapaan Ibu NDY

Belajar kelas maya pertemuan ke 16 ini tidak seperti biasanya melalui chat di whatsaap grup, tetapi menyatukan peserta melalui zoom metting. Tentu ini menarik karena peserta bisa saling melihat wajah. Lebih menarik lagi, materi disampaikan dengan bergabung di link zoom.

Pengertian buku digital adalah salah satu jenis buku aau bacacan yang hadir dalam bentuk softcopy atau elektronik yang kemudian bisa dibaca menggunakan perangkat digital, baik itu smartphone maupun komouter (PC dan latop). E book disebut buku nirkerta/buku maya. Buku digital/buku elektronik di singkat e-book  atau ebook, aalah bentuk digital dari buku cetak.

Menurut Oxford KAmus Bahasa Inggris, buku digital sebenarnya berawal dari buku cetak, kemudian bukucetak tersebut ubah dalam perangkat ebook yang dapat dibaca melalui komputer maupun ponsel genggam probadi

Fungsi buku digital:

  1. Sebagai salah satu alternatif media belajar
  2. Sebagai media berbagi informasi

Tujuan buku digital: 

  1. Memebrikan kesempatan kepada pembat konten untuk berbagi dengan mudah, dengan cara yang menarik dan interaktif
  2. Melindungi informasi yang disampaikan
  3. Mempermudah proses memahai materi ajar

Aplikasi dan buku digital berbasis web:

  1. Sigil merupakan sebuah software editor untuk EPUB (elektronik yang bersifat open source. https://sigil-ebook.com/
  2. Scribus, aplikasi ini juga sudah banyak digunakan. https://www.scribus.net/downloads/
  3. Aplikasi pengolah kata yaitulibre Office atau MS Office
  4. Aplikasi pengolah gambar yaitu ibispaint atau adobe photoshop
  5. Aplikasi audio editro yaitu audacity/format factory
  6. Aplikasi video editor yaitu avidemux/format factory

Aplikasi Pemformatan Buku Digital. Cerita Anak Direktorat Sekolah Dasar, Legutu Media

Efisiensi Buku Digital: Selain praktis, sagi fisik lebih efisien, dapat diakses di mana saja, dapat disimpan file e book tertampung di dalam memory, ramah lingkungan dan kostumisasi

Jenis-Jenis Format Buku Digital:

  1. EPUB-Elektronik Publication,
  2. MOBI-MobiPocket
  3. PDB-Palm Databasefile
  4. PDF-Portable Document Format
  5. KF8--Kindle Fire Format
Contoh buku cerita anak digital bisa dibuka di https://s.id/DigitalCerita

Menggunakan aplikasi Canva sangat bagus untuk mendesain buku cerita dan dibuat menjadi buku cerita digital.

Berkunjung ke Kediaman Aisyah (Part 10)

 Aisyah...

"Melihatmu bisa menginsfirasi teman-temanmu di sekolah dengan sikapmu, membuat ibu penasaran ingin mengetahui sisi lain dalam dirimu. Membaca buku catatan pribadimu yang tersimpan pada guru kelasmu menambah rasa ingin tahu ibu, seperti apa kehidupanmu di rumah. Orang tua sederhana, rajin dan perhatian pada anak-anaknya. Seperti itu gambaran yang ibu dapatkan dari guru kelasmu."

Berkunjung ke kediaman Aisyah merupakan keinginan yang sudah lama saya rencanakan. Tidak pagi hari, namun kunjungan akan saya lakukan setelah memantau sekolah pagi hari. Masuk ke beberapa kelas yang untuk memantau  kesiapan belajar anak-anak. Banyak hal yang saya lakukan setelah melakukan pemantaun kesiapan anak-anak belajar. Satu di antaranya adalah menemukan kelas yang anak-anaknya tidak masuk lebih dari 2 hari tanpa keterangan. 

Dasar temuan inilah, saya sering bertandang melakukan kunjungan rumah. Mengendarai sepeda motor vario pink yang selalu setia mengantar, mengelilingi kampung, masuk dari gang yang satu ke gang yang lain. Saya sering berkeliling ke kampung-kampung asal anak pada jam-jam sekolah. Jika menemukan anak sekolah  bermain di rumah pada jam sekolah, maka saya langsung saja memaksanya masuk sekolah semacam sidak atau insfeksi mendadak. Namun tidak kali ini. Tujuan kali ini adalah khusus untuk Aisyah. 

Dengan berbekal catatan kecil berisi alamat Aisyah yang saya peroleh dari guru kelasnya dan alamat yang lebih rinci dari teman sekampung Aisyah, saya berangkat kunjungan rumah. Rasanya seperti mau bertemu seseorang yang sangat dirindukan. Pertanyaan-pertanyaan yang akan saya ajukan pada orang tua Aisyah sudah berada dalam benak. Pertanyaan tidak banyak karena saya ingin berbincang-bincang tentang bagaimana Aisyah di rumah bersama keluarganya. Saya ingin orang tua Aisyah yang bercerita tentang kehidupan keluarganya terutama bagiamana mereka mendidik Aisyah di rumah. Bagimana orang tua Aisyah  memberikan pendidikan atau pembelajaran tentang perilaku kepada Aisyah. Di samping ingin mengetahui lebih banyak tentang Aisyah dalam keluarganya, saya juga ingin mengetahui bagaimana lingkungan membentuk Aisyah. 

Apakah ada peran lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakar dalam pembentukan karakter Aisyah dan karkater anak-anak pada umumnya.

Lingkungan memiliki peran sentral dalam pembentukan karakter anak, baik lingkungan keluarga, lingkungan sekolah ataupun lingkungan masyarakat. Keluarga meripakan lingkungan pertama dikenal anak, sehingga orang tua harus mampu menciptakan lingkungan keluarga yang kondusif bagi anak. 

Peran orang tua dalam mewujudkan kepribadian anak antara lain kedua orang tua harus mencintai dan menyangi anak-anaknya, kedua orang tua  harus menjaga ketenangan lingkungan rumah dan menyiapkan ketenangan jiwa anak-anak, saling menghormati antara kedua orang tua dan anak-anak, mewujudkan kepercayaan.

Membangun karakter anak juga merupakan salah satu tanggung jawab penting orang tua. Meskipun sekolah memberikan pendidikan karakte dan menanamkan nilai-nilai utama karakter pada diri anak-anak, nmaun orang tua tetap memegang peran utama dalam pengembangan karakter. Orang tua merupakan figru penting dalam proses tumbuh kembang anak. Selain itu, orang tua sebagai contoh pembentukan karakter anak yang baik, memenuhi saran dan prasarana untuk mengembangkan kemampuan sebagai bekal kehidupan anan di asa depan serts bagaimana menanamkan nilai sosial, budaya dan agama sedini mungkin, memberikan kasih sayang, perhatian, kepedulian kepada anaknya. 
(https://kumparan.com/hanifah-assyadiah/peran-orang-tua-dalam-membangun-karakter-anak-1x9H)

Adakah orang tua Aisyah melakukan peran dan tanggung jawabnya sesuai dengan yang seharusnya?

Suasana sepi di rumah Aisyah begitu saya tiba. Orang tua Aisyah, bapaknya pergi bekerja memburuh serabutan. Ibunya hanya ibu rumah tangga. Aktivitasnya di rumah adalah mengerjakan pekerjaan rumah tangga, mengasuh anak-anaknya dan pekerjaan sampingannya setelah selesai mengerjakan pekerjaan rumah adalah menganyam kerajinan bakul berbahan bambu.
Berbincang-bincang dengan ibunya Aisyah ternyata asyik juga. Ia sosok yang ramah, sopan dan terbuka. Ia mempersilahkan saya duduk di teras rumah kecilnya. Rumahnya terdiri dari dua  kamar tidur dan satu ruang tamu. Berada dalam gang sempit yang padat penduduknya. Rumah sekitar tempat tinggal Aisyah padat dengan tata bangunan yang kurang beraturan. Rumah dengan ukuran yang hampir  sama semua. Inilah rumah anak-anak yang sekolah di tempat kami. 

Melihat kondisi rumah seperti tiu, rasa bersyukur saya bertambah. Mereka yang hidup dan tinggal di rumah seperti ini tampak bahagia dan mensyukuri keadaan. 

فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
"Fabiayyi'ala irobbikuma tukadziban"
"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"
"Maka nikmat-nikmat Rabb kalian yang manakah yang kalian berdua (jin dan manusia) dustakan?"(Apa Arti dari Fabiayyi Ala Irobbikuma Tukadziban? Ini Jawabannya | kumparan.com)

Aisyah mendapat didikan dari orang tua yang santun, penyabar dan menghargai orang lain. Orang tuanya menanamkan kejujuran walaupun hidup sederhana. Agama menjadi kekuatan dan pedoman dalam menjalani hidup di masyarakat dan di sekolah. Katanya,"Hormati guru agar berkah ilmu yang diterima."

Lombok, 13 Februari 2023

Minggu, 12 Februari 2023

Aisyah Sabar (Sarapan Bareng) Part 9

 Aisyah....

Hari ini, engkau sekolah seperti biasa. Ibumu tak lagi mengantarmu ke sekolah seperti waktu engkau kelas satu, empat tahun yang lalu. Ibumu tidak lagi menunggumu sampai jam pelajaran berakhir. Ibumu tak lagi menjadi pasukan kebersihan di sekolah kita. Ah,....ternyata saya rindu juga pada ibumu Aisyah. Sepertinya  lama sekali  tidak bertemu.

Aisyah,

Sekarang Aisyah sudah mandiri. Berangkat ke sekolah bersama teman-temannya. Pasti Aisyah senang bisa bersenda gurau sepanjang jalan yang Aisyah lalui. Jalan panas dari rumah ke sekolah yang jaraknya kurang lebih setengah kilometer pasti tidak  dirasakannya. Tentu perasaan Aisyah sangat senang bisa tertawa, bercanda, merencanakan mau main apa nanti sepulang sekolah atau berlarian saling kejar-kejaran bersama teman-temannya.

Tas yang bertengger di punggung dengan tangan kanan memegang tas kecil berisi kotak nasi, tentu lauknya enak. Itu bukti kasih sayang orang tua Aisyah. Ibunya menyiapkan sarapan untuk disantap pada waktu sarapan bareng di dalam kelanya. Di gerbang sekolah Aisyah dan teman-temannya disambut oleh guru piket yang sudah siap berdiri muali pukul 06.10 wita. Guru piket menyalami anak-anak sesekali bertanya kepada anak-anak tentang kesiapannya belajar mulai dari kesehatannya, persiapan kelengkapan alat belajar dan kesiapan sarapan. 

Tepat pukul 07.30 wita sampai jam 07.45 wita, Aisyah sarapan bersama teman-teman dan gurunya di dalam kelas. Saya yakin, apa pun isi kotak sarapannya, Aisyah akan mensyukurinya.

Saya menyempatkan diri masuk ke kelas Aisyah untuk melihatnya sarapan bersama teman-temannya. Aisyah tampak makan dengan lahap setelah dipimpin berdoa oleh ketua kelas di bawah pengawasan gurunya. Bukan Aisyah saja yang mejadi tujuan pemantauan saya tetapi semua anak-anak di kelas itu.  Bukan hanya Aisyah yang makan dengan lahapnya, tetapi teman-teman Aisyah tampak makan dengan lahapnya. Mereka mengikuti aturan makan yang benar seperti berdoa sebelum dan sesuah makan, tidak berbicara saat makan, tidak bersuara waktu mengunyah makanan, menggunakan sendok makan agar tidak keluar masuk kelas mencuci tangan, sendok tidak bersuara waktu menyendok makanan, dan tidak menjatuhkan makanan di sekitar tempat makan agar tidak kotor. Terpenting juga saya memastikan anak-anak membawa makanan dengan menggunakan kotak nasi serta tempat minum isi ulang bukan sekali pakai. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi penumpukan sampah di sekolah akibat karena bungkus nasi berupa kertas nasi, streopom, mika, gelas mineral dan atau sejenisnya. 

"Boleh ibu sarapan di sini, nak?" tanya saya pada salah satu anak yang duduk dekat Aisyah.
Dengan malu-malu dan sedikit menutup kotak nasinya, anak itu menjawab,"Boleh,Bu Guru Kepala!"

"Terima kasih, Nak! Ibu sudah ada sarapan. Ibu hanya ingin melihat anak-anak sarapan bersama. Ibu senang semua bisa sarapan. Semua bisa saling memberi. Ibu senang melihatnya." ucap saya sembari melanjutkan mendekat ke arah Aisyah.

Saya penasaran, saja lauknya anak-anak sehingga semua ingin menghabiskan sarapannya padahal isi kotak nasinya penuh. Orang tua mereka mengisi kotak sarapan penuh-penuh semua. Saya sering mengingatkan agar anak-anak tidak menghabiskan nasinya pagi hari. Isi kotak nasinya bisa dimakan kembali saat jam istirahat. Jika bisa seperti itu, uang saku bisa dihemat atau ditabung. Namun sebagian saja yang mengindahkannya. Akhirnya saya berkeliling mencoba mengecek lauk mereka, he he...kepo...

Saya bertanya pada salah seorang anak.

"Jangan dihabiskan isi kotak nasinya, Nak! Nanti jam istirahat dicari lagi. Uang sakunya bisa dihemat, Nak!" 

"Bagaimana tidak dihabiskan, Bu Guru. Ikannya enak. Ayam Geprek."
Waduh,....ayam juga disebut ikan. 
Benar juga  jawaban anak tersebut. Daripada tidak dihabiskan nanti tidak fokus belajar lantaran memikirkan  lauknya yang belum habis. 

Saya senyum-senyum sendiri sambil mencandai anak tadi. " Boleh ibu minta lauknya, dong!"
Dengan cepat anak itu menjawab," Bisa-bisa, Bu Guru. Besok Dafa bawakn. Ibu Dafa berjualan ayam geprek di depan Lombok City Center."
"Terima kasih, Nak! Tidak usah, Ibu hanya bercanda saja. Semoga jualan ibunya laris, ya!"

Lain Dafa lain punya Aisyah. Aisyah lauknya bukan ayam geprek tetapi tahu, telur dan tempe goreng manis. Aisyah nampak lahap juga sarapannya seperti teman-teman yang lain.
Aisyah Sabar (sarapan bareng) dengan teman-temannya. Mensyukuri apa yang ada.

Lombok, 12 Februari 2023

Aisyah dengan Orang Tuanya (Part 8)

 Aisyah...

Bagaimana kehidupanmu di rumah bersama orang tuamu? 

Saya penasaran dengan Aisyah..

Saya tidak sedekat wali kelasnya. Cerita tentang Aisyah tentu saja sudah saya dapatkan dari guru kelasnya. Pertama saat Aisyah menunjukkan perilaku baiknya ba'da sholat berjamaah di mushala, saya langsung mencari tahu dari guru kelasnya. Dikeluarkan buku catatan pribadi anak-anak oleh guru kelasnya. Satu di antaranya adalah buku catatan pribadi Aisyah. 

Buku catatan peribadi anak, dibuat oleh  guru kelas untuk masing-masing anak karena sifatnya pribadi. Buku catatan pribadi anak hanya boleh diketahui oleh guru dan anak tersebut. Isi catatan pribadi anak berisi tentang pribadi anak itu sendiri, sifatnya, karakternya, gaya belajarnya, tempat tinggal anak atau anak tersebut tinggal bersama siapa di rumah termasuk catatan tentang orang tuanya. Tidak sedikit anak yang tinggal bersama bibi, paman, kakek atau neneknya lantaran orang tua kandungnya meninggal, orang tuanya pergi mencari kerja ke luar negeri bahkan mungkin orang tuanya tidak di rumah karena sesuatu hal yang mungkin anak itu malu jika diketahui oleh orang lain. Tidak sedikit pula anak yang bersama neneknya karena orang tuanya berpisah. Inilah sebabnya buku catatan pribadi anak hanya boleh dilihat oleh anak tersebut dan guru agar guru bisa memberikan layanan yang sesuai dengan anak tersebut. 

Wali Kelas mengizinkan saya membaca buku catatan pribadi Aisyah. Terungkaplah sifat Aisyah di kelas dan terhadap teman-temannya. Aisyah adalah manusia biasa yang  tak luput dari salah dan khilaf. Itu wajar, jika dalam catatan peribadi, Aisyah pernah melakukan kesalahan namun tidak membuat dibatalkannya predikat role model untuk Aisyah.

Saya lanjut membaca buku catatan peribadi Aisyah sampai pada catatan tentang orang tua Aisyah. Ada gambaran sedikit yang saya peroleh tentang Aisyah.

"Orang tua Aisyah, itu lho, yang suka menunggu di luar gerbang sekolah."Bapaknya menunggu adiknya Aisyah yang sekarang masih kelas satu. Dia suka melihat saja ke arah sekolah. Dia melihat anaknya dari jauh, Bu." guru kelas Aisyah menjelaskan sembari merapikan buku catatan pribadi anak-anak yang lain. 

"Terima kasih, Bu Guru!" 

Saya mengiayakan penjelasan guru kelas Aisyah sambil terus membuka buku catatan pribadi Aisyah.  Pikiran saya melayang ke masa empat tahun yang lalu. Saya ingat orang tua Aisyah. Orang tua yang selalu mengantar anaknya ke sekolah bahkan menunggu anaknya sampai pulang. Bukan Bapaknya yang menunggu Aisyah empat tahun yang lalu tetapi ibunya.

Waktu itu, aturan sekolah tidak membolehkan orang tua menunggu putra-putrinya di sekolah apalagi menunggu di dalam lingkungan sekolah terlebih menunggunya di depan kelas. Depan ruang kelas satu. Empat tahun yang lalu, Aisyah masih kelas satu sekolah dasar.

Mungkinkah ini namanya orang tua yang over protektif? Mungkinkah ini nama orang tua yang tidak mengajarkan mandiri kepada anak-anaknya seperti anak-anak  lain yang dilepas sampai gerbang sekolah saja? Mungkinkah ini yang namanya orang tua yang tidak percaya pada guru? Atau mungkinkah ini yang namanya sekolah tidak tegas menegakkan aturan? Entahlah!

Terpenting bagi saya saat itu adalah bagaimana Aisyah dan anak-anak yang lain mau sekolah. Setiap tahun selalu saja ada anak yang tidak mau ditinggal oleh orang tuanya. Ada yang menangis bahkan ada yang tidak mau lepas dari pegangan orang tua. Tidak banyak memang yang seperti itu. Dua atau tiga anak yang masih perlu ditunggu oleh ibunya. Berangkat dari pengalaman itu maka saya hanya  mengingatkan dan membuat kesepakatan jika memang harus menunggu putrinya termasuk Aisyah saat itu. 

Orang tua Aisyah, saya perbolehkan menunggu di sekolah dengan kewajiban harus menjadi contoh anak-anak di sekolah selain pembelajaran yang diberikan guru. Kesepakatan antara lain, Ibu Aisyah  harus membantu bersih-bersih kelasnya Aisyah termasuk di depan kelas atau halaman sebelum jam pelajaran dimulai bersama beberapa orang tua yang mempunyai sifat sedikit over protektif terhadap anaknya. Kesepekatan ini diterima oleh orang tua dan dikerjakan secara bergotong royong. Kesepakatan ini saya pantau secara terus-menerus.

Akhirnya,.....

Orang tua Aisyah menjadi pelopor kebersihan di sekolah. Kesepakatan ini yang dilakukan secara gotong royong ini tidak hanya di kelas Aisyah saja , tetapi orang tua Aisyah mau mebersihakan sampai halaman depan sekolah termasuk pinggir jalan utama.  Orang tua  Aisyah ikut juga bergotong royong bersama guru, anak-anak dan warga sekolah lainnya pada kegiatan Jum'at bersih di sekolah. 

Saya melihat layaknya pasukan kebersihan saja.  Ketika jam belajar sudah mulai dan Aisyah sudah berada di dalam kelas maka orang tua Aisyah dan beberapa orang tua menggotong tong sampah dan membawa sapu seperti memegang gitar menyerbu tempat-tempat yang luput dari pengamatan penjaga sekolah. 

Tentu ini meringankan tugas guru kelas satu  untuk menyapu kelas mengjngat kelas satu belum bisa menyapu kelas dengan bersih

Perilaku orang tua Aisyah patut diteladani. Bagaimana dengan perilaku orang tua Aisyah yang dibelajarkan kepada anak-anaknya di rumah?

Saya menjadi penasaran,

Saya ingin bertandang, bersilaturrahmi ke rumah Aisyah. 

Tulisan ini sudah tayang di https://www.kompasiana.com/nuraini6234.

Lombok, 12 Februari 2023


Langkah Awal CGP Angkatan 10

 Oleh Nuraini Dokumen Pribadi Sekolah Dasar Negeri 1 Dasan Tereng, merupakan salah satu sekolah penyelenggara program sekolah penggerak. Dal...