Minggu, 26 Februari 2023

Karena Aisyah Aku Ada di Sini ( Aisyah Part 16)

 Karena Aisyah Aku Ada.

Judul tulisan ini sen0da dengan judul tulisan saya sebelumnya yakni Aisyah sebagai salah satu sumber ide munculnya banyak program yang dilaksanakan di sekolah.

Masih lekat diingatan kejadian yang menimpa bumi Lombok dan Sumbawa tahun 2018 lalu. Bencana besar yang amat dahsyat meluluhlantakkan bumi Lombok dan Sumbawa. Memporakporandakan gedung, bangunan bahkan peradaban masyarakat. Tangis yang terdengar di mana-mana kala itu. Ketakutan berhari-hari akibat gempa susulan yang seperti berulang minggu terjadi . Sebagai contoh, gempa terjadi hari Kamis, maka Kamis depannya gempa hadir lagi. Ketika listrik padam tiba-tiba, maka sesaat setelah listrik padam terjadilah gempa. Gempa yang terus-terusan ini membuat masyarakat tidak berani masuk ke dalam rumah mereka yang masih tersisa. Masyarakat lebih memilih tinggal di pengungsian agar lebih aman.

Sekolah diliburkan sampai batas waktu yang tidak ditentukan begitu terjadi gempa berkekuatan 6,4 Mw, jenis sesar naik dengan kedalam 24 km (15 ml) bulan 29 Juli 2018. Gempa susulan terjadi sebanyak 524 kali.(id.m.wikipedia.org). Sekolah menjadi sepi, tidak terjadi pembelajaran sampai batas waktu yang tidak ditentukan saat. itu. Pengecekan terhadap kondisi sekolah segera dilakukan untuk memberikan laporan kepada pihak terkait yakni Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Pengecekan ini dimaksudkan untuk memastikan sekolah aman digunakan untuk belajar anak-anak ketika keadaan sudah normal kembali. Gempa susulan tidak terjadi lagi.

Ketakutan ternyata tidak dialami oleh anak-anak saja. Orang tua justru lebih takut jika anak-anak mereka sekolah saat itu. Pemerintah daerah sudah memperbolehkan anak-anak untuk sekolah, namun sekolah masih tetap saja sepi sampai beberpa bulan sejak kejadian gempa. Bagimana tidak, meskipun pemerintah sudah menyatakan aman untuk anak-anak bersekolah, masih saja terjadi gempa susulan meskipun instensitasnya tidak sesering bulan Juli dan Agustus. Kekuatannya juga tidak seperti ketika gempa pertama dan susulan kedua datang. Namun karena trauma membuat orang tua sangat khawatir dan ketakutan

Berbagai upaya yang dilakukan sekolah untuk mempersiapkan dan menyambut anak-anak datang ke sekolah, namun sekolah tetap saja sepi. Pro dan kontra dari orang tua terjadi. Ada orang tua yanga mengatakan kepada pihak sekolah,"Jika terjadi apa-apa dengan anak saya, apakah sekolah mau bertanggung jawab?" Banyak lagi suara-suara miring yang ditujukan kepada sekolah waktu itu. Situasi seperti ini membuat sekolah mengambil kebijakan, siapa yang berani, yakin dan tidak kahwatir, silahkan putra-putrinya di berikan ke sekolah. Kebijakan ini diberikan sampai masyarakat mendapat edukasi yang tepat.

Kebiasaan untuk berkunjung ke rumah anak-anak membuat saya ingin menjemput anak-anak agar berani kembali ke sekolah.  Saya agendakan saat itu untuk berkunjung ke pengungsian yang dijadikan tempat tinggal oleh orang tua murid bersama keluarganya. Ada beberapa titik pengungsian untuk masyarakat sekitar sekolah. Dari dua desa yang menjadi sumber murid, ada 3 titik pengungsian yang menampung masyarakat. tiga titik itulah yang menjadi sasaran saya berkunjung. 

Apakah saya takut dengan gempa susulan? 

Takut adalah hal yang manusiawi. Tetapi di depan anak-anak dan guru, saya tidak boleh menunjukkan rasa takut. Bagaimana jika saya berterus terang atau bercerita kepada mereka bahwa saya sebenarnya orang yang paling takut., maka mereka akan menjadi lebih takut dari saya. Bisa jadi juga takut menjadi alasan untuk tidak masuk melaksanakan tugas mengajar mereka. Semoga prasangka ini salah.

Saya membuang rasa takut karena tanggung jawab untuk memulihkan keberanian anak-anak untuk masuk sekolah. Saya berusaha menekan semua perasaan takun akibat melihat bagaimanaa rumah saya, di depan mata  seperti bergerak turun naik ketika gempa saat itu. Untuk berkunjung ke pengungsian, perlu persiapan. Saya mempersiapkan segala keperluan yang bisa menarik anak-anak untuk berkumpul. Ransel yang saya pikul, saya penuhi dengan snack kesukaan anak-anak. Depan jok motor, saya penuhi dengan minuman yang disukai anak-anak. Saya akan berpindah tempat dari pengungsian yang satu ke pengungsian yang lain.

Di tempat pengungsian, saya disambut anak-anak. Mereka sangat senang dengan kehadiran saya. Mereka bersorak-sorai kegirangan. Saya meminta salah seorang anak memanggil teman-temanya yang masih dibuai selimut dalam tenda pengungsiannya. Tidak berapa lama, mereka sudah berkumpul di sisi lapangan tempat mereka mengungsi. Anak usia sekolah maupun yang belum sekolah ikut duduk mengitari saya yang masih duduk di pinggir lapangan. Suasana bahagia terpancar dari wajah mereka. Tas yang saya pikul saya turunkan dan letakkan di sisi tempat duduk. Saya sampaikan pada anak-anak bahwa di dalam ransel saya penuh dengan kue, permen dan balon. Ini untuk mereka. KIta akan bermain di lapangan bersama-sama. Siapa saja berhak mendapatkan isi ransel ini. Anak-anak kembali bersorak-sorai sambil bertepuk tangan kegirangan.

Saya mengajak mereka bernyanyi, bertepuk dan saling menceritakan tentang pengalaman mereka di pengungsian. Suka duka mereka selama di pengungsian mereka certitakan. Yang berani bercerita saya berikan hadiah. Anak-anak bergandengan tangan, bernyanyi, berputar-putar sambil sesekali menerikkan kata,"Siap Sekolah."

Kunjungan saya dari pengungsian yang satu ke pengungsian yang lain membuat mereka  siap ke sekolah keesokah harinya.

Pembelajaran dari Aisyah membuat saya ada dan hadir di pengungsian anak-anak. Memberikan sedikit ketenangan hati dan keberanian kepada anak-anak untuk hadir kembali ke rumah ke dua mereka yakni sekolah.

Janji pagi untuk sekolah, siang gempa datang lagi......

Kenangan Aisyah Masih di Sini ( Aisyah Part 15)

Pagi itu, cuaca sangat cerah. Seperti biasa pagi hari di isi dengan kegiatan literasi. Semua anak sudah mengetahui apa yang harus dilakuakn setiap pagi ketika bel sekolah berbunyi. TIdak ada lagi perintah, tidak ada lagi aba-aba tau instruksi dari guru. Pagi pukul 07.00 wita, guru piket sudah membunyikan bel sekolah.

Dari seluruh penjuru sekolah bermunculan anak-anak dengan mengepit buku di ketiak mereka atau membawa seperti cara petugas upacara membawa teks Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.  Mereka tanpa diperinah pula, mengambil tempat duduk di seputaran halaman sekolah yang bisa mereka gunakan sebagai tempat berkegiatan pagi hari. 

Mereka akan melaksanakan kegiatan sekolah yakni,"Libat Guru dan Siswa di 30 Menit Pertama." atau kegiatan literasi baca tulis guru dan siswa di tiga puluh menit pertama sebelum masuk kelas untuk belajar. Tidak hanya anak-anak yang ada di tengah-tengah kegiatan itu, tetapi semua guru mengambil tempat di dekat anak-anak  untuk melakukan kegiatan yang sama. 

Pada kegiatan ini pula, guru kelas satu biasanya menitip anak-anak mereka yang beluam bisa membaca kepada guru lain seperti guru agama, guru penjaskes atau  kepada guru kelas lain untuk membantunya mengajar anak-anak membaca. Guru kelas satu menyebutnya dengan istilah adopsi anak. Bukan adopsi anak untuk menjadi anaknya di rumah tetapi mengadopsi untuk dilatih atau diajar membaca selama tiga puluh menit pada kegiatan "Libat Guru dan Siswa di 30 Menit Pertama." Selanjutnya anak adopsi mereka akan kembali ke kelasnya masing-masing.

Ada kenangan Aisyah di sini. Ketika Aisyah masih di kelas satu, Aisyah selalu didampingi oleh ibunya pada kegiatan literasi pagi. Ibunya selalu mengambil bagian pada kegiatan ini. Tidak hanya ibunya Aisyah, tetapi ibu-ibu https://www.youtube.com/watch?v=6wWYvUGdXEM lain yang menunggu anaknya kala itu, selalu mengambil bagian. Mereka ikut mendampingi anak-anak mereka untuk membaca dan menulis pada kegiatan literasi. 

Aisyah, ibunya dan ibu-ibu yang lain duduk berderet di halaman sekolah mengikuti kegiatan ini.

 


Sabtu, 18 Februari 2023

Aisyah, Ceritanya Masih di Sini ( Aisyah Part 14)

Aisyah  tidak selamanya harus duduk di bangku  sekolah dasar. Saatnya ia harus meninggalkan bangku sekolah dasar. Saya berharap Aisyah akan melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Cita-citanya ingin menjadi guru. Semoga cita-cita Aisyah bisa tercapai....

Aisyah melangkahkan kaki, meninggalkan sekolah dengan berbekal ijazah. Selembar kertas yang menjadi catatan dalam hidupnya. 

Aisyah meninggalkan buku catatan pribadinya pada guru kelas. Buku yang tersurat di dalamnya tentang pribadi Aisyah. Bagi saya,...Aisyah tidak hanya meninggalkan buku yang di dalamnya tersurat tentang dirinya, namun jauh lebih penting dari itu. Aisyah role model sekolah kami, telah meninggalkan pesan dan kesan tersirat kepada teman-temannya. Pembelajaran yang berarti juga bagi saya. 

Aisyah  hidup sederhana bersama orang tuanya yang hanya buruh serabutan menempatkan pondasi agama dan karakter yang baik dalam kehidupannya sehari-hari. Aisyah yang mengingatkan saya untuk tidak hanya berada di sekolah, menerima laporan tentang anak-anak dari guru kelas tetapi harus lebih dekat membaca keadaan anak-anak. Aisyah yang memanggil hati saya untuk turun berkunjung melihat keadaan anak-anak di tempat tinggalnya. 

Dalam tulisan saya sebelumnya, setiap anak mempunyai karakter masing-masing. Role model di sekolah tidak bisa menginspirasi semua anak. Ada saja anak yang kekeh dengan kelakuannya.. Peran guru mengajar bisa berhasil namun ada saja peran mendidik yang tidak seratus persen berhasil. Ada korelasi antara pendidikan di sekolah dengan pendidikan yang diperoleh di rumah seperti di lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat. 

Satu contoh, sekolah tidak pernah mengajarkan anak untuk berkata kotor. Lingkungan sekolah tidak medengarkan perkataan-perkataan kotor. Lalu darimana anak memperoleh kata-kata kotor saat berkelahi dengan temannya. Atau sekolah tidak pernah mengajarkan berkelahi, darimana anak mendapat pembelajaran berkelahi.

Saya terpanggil untuk melakukan kunjungan rumah setelah banyak cerita catatan dari kunjungan ke beberapa teman Aisyah di kampungnya. Jika ada anak yang perilakunya  tidak sesuai dengan yang  diharapkan atau melanggar tata tertib sekolah secara berturut-turut maka membutuhkan penyelesaian dengan orang tua.  Penyelesaian yang memerlukan bantuan atau kerjasama dengan orang tua melalui kunjungan rumah. Saya, guru kelas dan seksi humas yang menjalankan tugas ini. Tidak jarang saya sendiri yang berkunjung ke rumah orang tua sekaligus membonceng anak yang melakukan pelanggaran pulang ke rumahnya. Tentu setelah jam pelajaran usai.

"Ibu yang mengantar kamu pulang, ya!" ucap saya pada seorang anak bernama Kia yang membuat guru kelasnya menangis karena kelakuannya di kelas. Kia takut karena saya yang akan mengantar. Ia tidak mau karena orang tuanya pasti marah. Ia sudah berulangkali melakukan pelanggaran yang membuat orang tuanya marah. 

"Jangan,  Bu Guru. Saya pulang sendiri saja, Bu guru." jawabnya kelihatan ketakutan. Saya mendekati dan berjanji akan memenuhi permintaannya.

"Ya, nanti ibu turunkan kamu di gang rumahmu. Ibu tidak akan masuk rumahmu." begitu janji saya pada Kia sehingga ia mau diantar oleh saya. Menurut teman-temannya, Kia sering dipukul oleh orang tuanya.  Saya semakin penasaran seperti apa kehidupan di keluarga Kia yang membentuk karakternya. 

Mendengar cerita teman-teman Kia, saya menjadi takut jika KIa diantar pulang oleh guru kelasnya. Saya khawatir orang tuanya nanti tidak menerima dan justru marah pada guru saya. 

Saya membonceng KIa pulang ke rumahnya. Sepanjang perjalanan ia menangis di sela-sela ia menjawab pertanyaan saya. Jarak rumahnya dengan sekolah kurang lebih 1 kilometer. Jadi tidak lama saya sudah sampai di gang depan rumahnya. Anak ini hendak turun dari motor sesuai dengan janji saya. Tetapi terpaksa saya mengingkari janji demi bertemu dengan orang tuanya. Begitu Kia mau turun dari motor, saya langsung menghentikannya.

"Diam! Tidak boleh turun. Ibu ingin bertemu dengan orang tuamu." Kia seperti kerbau dicocok hidung. Ia menurut kata-kata saya. 

Begitu sampai depan rumah Kia, saya matikan motor. Kia turun dari motor dan langsung masuk rumah. Sepertinya ia masuk kamar dan tidak keluar lagi.

"Asaalamualaikum arahmatullahi Wabarakatuh!" Salam saya sampaikan ketika melihat ada seorang ibu duduk di berugak (Bangunan bertiang empat, tempat menerima tamu suku sasak).

"Waalaikum salam. Pasti ada masalah yang dilakukan anak saya, Bu." menjawab salam dilanjutkan dengan pertanyaan ditujukan kepada saya oleh ibunay Kia. 

"Tidak! Mengapa ibu bertanya begitu?"

"Ya, selalu saja anak ini  membuat masalah. Kemarin sudah datang pengaduan dari tetangga. Minggu lalu sudah juga datang laporan dari guru kelasnya." Ibu Kia dengan suara parau bercerita tentang anaknya. 

Karena ibu Kia yang mengawali bercerita bahwa anaknya sering membuat masalah termasuk di rumah, maka saya mengiyakan bahwa Kia membuar masalah di sekolah. Saya menjelaskan panjang lebar tentang apa yang dilakuka Kia di sekolah. Kelakuan Kia membuat guru kelasnya menangis termasuk saya. Saya merasa gagal mendidik anak ini di sekolah. Kepada orang tua Kia, saya meminta agar masalah perbaikan perilaku Kia ini menjadi tanggung jawab kita bersama. Saya juga memukul Kia, karena ia masih anak-anak. Mungkin karena pergaulannya di lingkungan rumah, masyarakat dan pengawasan orang tua yang kurang inten terhadap pergaulan Kia. 

Saya hanya bertemu dengan ibunya Kia. "Bapaknya Kia, mana?"tanya saya pada ibunya Kia yang masih mengusap matanya. Ia berbicara tanpa melihat ke arah saya. Tatapannya kosong seperti penuh kemarahan dan kesedihan. Kekecewaan tampak dari raut mukanya dan sikapnya ketika berbicara dengan saya. 

Ibu Kia menunjuk ke arah bangungan beratap seng, semacam garasi tempat parkir. Ada dua  buah sepeda motor terparkir di sana. Pandangan saya arahkan ke tempat yang ditunjukkan ibunya kita.

Seorang laki-laki yang saya jumpai pertama ketika saya baru datang. Lelaki itu pula yang mempersilahkan saya duduk tanpa bertanya saya mencari siapa. Ia langsung memanggil istrinya (ibunya Kia) untuk  menemani saya.

Lelaki bertumbuh tambun mengenakan celana jeans yang dipotong selutut. Ia tidak mengenakan baju sehingga perutnya yag buncit dengan kulit hitam tampak jelas terlihat. Ada perasaan takut ketika saya baru tiba di rumah Kia. Ternyata lelaki itu adalah ayahnya Kia,

Sepanjang saya berbicara dengan ibunya Kia, ayah Kia sibuk dengan kegiatannya. Ia sedang membersihkan sepeda motornya. Ia tak sedikitpun menghampiri saya apalagi bertanya tentang keperluan saya datang ke rumahnya. Mungkin ia tahu bahwa saya datang adalah terkait dengan perilaku anaknya seperti cerita ibunya Kia.

Tidak lama berselang. lelaki itu mmengambil handuk dan masuk rumahnya.

"Dar! Jeplak! Jeblak!" suara terdengar dari dalam rumah. 

Saya kaget, karena begitu ayahnya Kia masuk rumah dan tidak tampak lagi dari luar, suara itu terdengar dari dalam rumah. Suara tangis juga terdengar dari dalam rumah.

"Ibu, tadi sudah saya katakan, Kia jangan dipukul! Ijinkan saya masuk ke dalam rumah ibu."

Tanpa menunggu jawaban ibunya Kia, saya langsung lari masuk rumah. Saya lihat Kia yang membungkuk memegang lututnya menangis memohon ampun pada ayahnya. Wajah ketakutannya tampak jelas. Kia dipukul ayahnya menggunakan handuk. Ayahnya memukul tanpa berkata apa-apa. Mungkin sudah kecewa yang berlebihan.

"Saya mohon, Pak! Jangan pukul Kia. Kia perlu pendampingan dari kita." saya mendekati ayahnya Kia yang bertumbuh tambun itu. Saya tidak merasa takut sedikit pun. Saya memohon dengan suara terbata-bata karena saya menangis. Saya mengepit kedua tangan, memohon agar Kia tidak dipukul lagi. 

"Ini anak, tidak ada kapoknya! Selalu saja membuat orang tua malu." umpatan kekecewaan bapaknya Kia diluapkan di depan saya. Memang benar juga, Kia tidak kali ini saja berbuat tidak baik di sekolah. Karena berulang kali itulah yang membuat saya ingin sekali bertemu orang tua Kia.

Setelah emosi bapaknya Kia mereda, saya ke luar rumah. Saya duduk kembali di berugak bersama ibunya Kia. Saya ingin pamit pulang membawa cerita dari rumah Kia. Sebelum pulang ada cerita menyedihkan lagi yang saya dapatkan di rumah Kia. Ibu Kia bercerita, Kia bukan anak kandungnya. Kia diambil menjadi anak angkatnya sejak bayi. 

Saya berpikir, jika Kia diangkat menjadi anak sejak bayi. lalu Kia berperilaku seperti ini, pola pendidikan seperti apa yang didapatkan dari rumahnya? Apakah pola asuhnya yang salah? 

Saya pulang dengan beragam pertanyaan dalam benak saya. Sepanjang perjalanan, semua yang terjadi dan yang saya lakukan menjadi bahan renungan saya.

Bagimanapola asuh yang baik di rumah. Bagaimana pola kerjasama sekolah dan orang tua jika ada satu atau dua anak dalam kum[ulan anak yang jumlahnya ratusan berperilaku lain dari temannya. 

Introspeksi diri.....

Melakukan tindak lanjut

Lakukan yang terbaik.

Aisyah pergi,  pembelajarannya masih berlangsung...




Kamis, 16 Februari 2023

Aisyah, Fikri dan Tasya (Aisyah Part 13)

Anak tidak semuanya sama. Halnya dengan Aisyah yang saya jadikan role model di sekolah,tidak semua anak terinspirasi dari perilaku Asiyah. Ada saja anak yang tetap dengan perilakunya sendiri. Perilaku yang tidak sesuai dengan yang diharapkan. Tidak heran, jangankan anak yang berasal dari budaya dan lingkungan berbeda, anak yang berasal dari satu garis keturunan pun bisa mempunyai perilaku yang berbeda. Ibarat buah dari pohon yang sama, ada yang rasanya manis, ada yang rasanya asam. Contoh juga, buah pisang, dalam rumpun dan induk yang sama, namun buahnya ada yang hadap utara, selatan timur dan barat. 

Itulah gambaran anak-anak yang ada di sekolah.

Kunjungan ke rumah anak - anak yang tidak masuk sekolah mulai dari lingkungan tempat tinggal Aisyah mempunyai cerita tersendiri bagi saya. Dari rumah Aisyah sampai ke rumah Fikri. Ternyata anak-anak yang tidak masuk dan ketahuan oleh guru yang mendatangi rumahnya penuh  kisah perjuangan. Awalnya seperti termehek-mehek pada cerita di salah satu stasiun televisi swasta. 

Begitu saya tiba di salah satu rumah anak yang tidak masuk, anak yang saya cari lari tunggang langgang keluar dari jendela rumahnya......

Hai!

Mengapa berlari.....

Waduh,......saya mau bertemu, anaknya justru berlari menjauh. Padahal tidak akan dikenai sanksi apapun. Saya akan mengajaknya ngorbrol dari hati ke hati......

Dari rumah Aisyah, ke rumah Fikri berlanjut ke rumah anak yang lain. 

Pagi itu, jam pelajaran dimulai. Aktivitas berdoa, sarapan bersama dan kegiatan sapa Aisya sudah selesai dipimpin oleh ketua kelas. Saya masuk ke kelas itu karena guru kelasnya tidak masuk, ia cuti usai melahirkan.  Saya menyapa anak-anak yang saya kenal satu persatu. Tiba pada anak yang terakhir. Saya hitung jumlah anak yang tertera pada absen dan jumlah riil anak-anak yang ada di depan saya. 

Jumlah yang hadir tidak sesuai dengan nama yang tertera pada buku absen. Ketika saya menghitung jumlah anak, ketua kelas melaporkan ada anak yang tidak masuk. Anak ini sering tidak masuk tanpa keterangan.  Dalam satu minggu, pasti ada tidak masuknya. Satu hari, dua hari, tiga hari dan ini hari keempat ia tidak masuk. Namanya Tasya

Saya lalu mengambil secarik kertas. Saya tanya alamat lengkap Tasya. Karena di kampung tidak ada nama jalan bahkan gang pun jarang, maka saya tanyakan rumah Tasya sebelah mananya masjid, sebelah mana toko besar, sebelah mana tempat hidran umum dan keterangan lainnya yang mendukung. 

Woww...saya tambah kenal dengan seluruh warga kampung, meskipun tidak anak anaknya yang sekolah di tempat kami karena sering berkunjung. 

Belum selesai pertanyaan saya tentang alamat kepada teman sekelasnya Tasya, guru agama Islam masuk. Rupanya hari itu ada jam pelajaran agama. Di samping sebagai guru agama, ia juga bagian kesiswaan di sekolah. Ia juga sering saya ajak untuk kunjungan rumah. 

Rumah Tasya tidak susah di cari, berbekal secarik kertas tadi. Tetangga Tasya yang anaknya juga sekolah di tempat kami membantu menunjukkan jalan. Saya bisa bertemu dengan orang tua Tasya.

Seorang lelaki tua keluar dari dalam rumah begitu mendengar suara saya dan tetangga Tasya. Lelaki mengalungkan handuk kecil di leher seperti orang selesai olahraga. Tetapi bukan, lelaki itu berjalan dengan memegang tembok rumahnya. Ia kurang penglihatan. Ia adalah kakeknya Tasya.

Kakek Tasya mempersilahkan saya duduk di ruang tamunya sekaligus menjadi ruang keluarga mereka. Saya duduk di lantai semen tanpa alas apapun. Orang tua Tasya tidak keluar rumah. Apakah mereka bekerja? Pikir saya. Saya bertanya pada kakek Tasya. 

"Ibu Tasya, masih tidur. Bapaknya Tasya nikah lagi karena sudah berpisah dengan ibunya."kakek Tasya menjelaskan.

Tak lama berselang, ibu Tasya keluar kamar. Katanya ia tidak enak badan. Tasya belum bangun, ia juga tidak enak badan. Ia sakit, ibu Tasya menjelaskan. 

Saya kasihan dengan lelaki tua yang ada di depan saya. Di usianya yang tua seperti ini, ia tidak harus susah lagi. Anak perempuannya sudah berpisah dengan suaminya. Setelah berpisah dengan suaminya, ia tidak punya pekerjaan. Hanya berdiam diri di rumah. Lalu untuk kebutuhan sehari-hari bagaimana? 

"Ibu jangan pasrah dengan keadaan. Lihat Tasya, sudah berapa hari tidak sekolah dan sering tidak sekolah.  Sekarang tidak sekolah lagi. Kasihan Tasya! ibu. Ibu harus bisa menjadi contoh seperti bangun lebih pagi! Coba lihat, banyak orang sukses meskipun orang tuanya berpisah dua-duanya! Maaf, saya bermaksud saling mengingatkan."

Tasya tidak keluar rumah dari awal  datang sampai saya pulang. Saya hanya berpesan supaya Tasya masuk sekolah esok hari. Jika tidak, apa yang akan di lakukan di rumah pada jam teman-temannya belajar di sekolah. Siapa juga temannya bermain, sementara semua temannya berada di sekolah semua. 

Begitu cerita di kampung Aisyah,..

Masih ada cerita lagi, tentang saya yang menangis , memohon kepada orang tua anak atau murid demi anaknya......

Rabu, 15 Februari 2023

Fikri dan Aldi di Kampung Aisyah (Part 12)

 Aisyah.

Aisyah telah membuka mata hati saya. Aisyah telah membawa saya rutin melakukan kunjungan ke rumah anak-anak yang perlu mendapat perhatian.

Kali ini, kegiatan pembinaan iman dan takwa atau Imtak dilaksanakn di sekolah. Kegiatan diawali dengan sholat duha berjamaah. Tampak anak-anak sudah mulai berkativitas sejak pagi, matahari belum bersinar terik. Ada yang menyapu halaman, ada yang menyiapkan alas sholat dan ada yang menyiapkan meja tempat penitipan iqra' dan Al Qur'an yang akan dibaca ba'da sholat duha. Sementara guru yang bertugas sebagai koordinator imtak memutarkan pembacaaan ayat suci dan lagu-lagu Islami sebelum bel kegiatan Imtaq di mulai.

Pemandangan menarik yang saya saksikan adalah barisan antri wudu'. Karena banyaknya anak, persiapan sandal jepit tidak mencukupi. Pemandangan menarik ketika ada anak yang menggendong adik kelasnya yang tak punya sandal. Tidak hnay satu anak tetapi lebih yang melakukan hal itu. Sejuk sekali hati saya ketika melihat siswa pandai antri dan membantu temannya.

Saya sering mengatakan pada anak-anak,"Jangan suka menerobos barisan antre, karena itu menjadi cikal bakal orang yang suka mengambil hak orang lain. Jika ini dibiarkan akan menjadi cikal bakal korupsi."

Saya juga sering mengatakan bahwa saya lebih bangga anak-anak bisa antre daripada pintar matematika. Matematika bisa dilatihkan dengan cepat anak-anak bisa, tetapi kenyataannya antre ini sangat sulit dibudayakan bahkan bisa jadi sampai tamat sekolah atau sampai dewasa.

Ketika kegiatan imtak sampai pada kegiatan ceramah, saya memperhatikan jumlah anak sedikit lengang dalam shap sholat, saya bertanya siapa yang tidak masuk kepada tiap-tiap ketua kelas. Dari jawaban mereka, saya mendapatkan informasi bahwa ada dua anak yang tidak masuk. Anak itu sekampung dengan Aisyah. Fekri dan Aldi

Saya meninggalkan kegiatan imtak untuk mencari dua anak yang tidak masuk tersebut. Tidak butuh waktu yang lama karena sebelumnya saya sudah beberapa kali melakukan kunjungan ke kampung itu. Menemukan rumah fikri juga tidak sulit. Warga kampung menunjukkan rumah Fikri. Fikri tinggal bersama neneknya. Ibu fikri sudah berpisah dengan bapaknya. Lagi-lagi.......anak korban perpisahan orang tuanya.

Mendengar saya datang, seorang nenek keluar dari rumah dan menemui saya. Banyak hal tentang Fikri yang saya peroleh dari neneknya. Perasaan iba kembali merasuki saya. Bagaimana tidak, untuk makan sehari-hari saja nenek ini mengalami kesulitan. Orang tua Fikri sibuk dengan keluarga baru mereka masing-masing.

Saya bertanya,"Mana Fikri? 

Jawaban neneknya dengan berbagai alasan dan keluhan disampaikan pada saya. Fikri masih tidur. Ia tidak tahu bahwa Fikri sudah berlari keluar kamar ketika mendengar saya mencarinya dan  akan membawanya ke sekolah.

"Nek, Nenek tidak  lihat, Fikri  lari tadi keluar lewat jendela?"

"Nah. itulah dia, Bu!" Saya saja kesulitan membangunkannya, susah, Bu!" ucap nenek Fikri.

Saya gagal membawa Fikri hari itu ke sekolah. Besok Fikri akan sekolah, janji neneknya pada saya.

Kunjungan untuk mencari anak yang main-main di rumah pada saat temannya belajar di sekolah sudah menjadi kegiatan rutin saya lakukan. Kegiatan ini bermaksud supaya jangan ada anak yang tidak sekolah dengan sebab yang tidak penting.




Selasa, 14 Februari 2023

Cerita di Kampung Aisyah ( Part 11)

 Aisyah,....

Berkunjung ke rumahmu, membuat saya punya banyak cerita.  Tentu bukan cerita tentang Aisyah saja tetapi tentang teman-teman Aisyah yang tinggal dalam satu kampung dengan Aisyah. Aisyah yang hidup sederhana bersama orang tuanya, demikian juga dengan teman-temannya. Sepanjang pengamatan saya sewaktu berkunjung ke tempat Aisyah, rata-rata memiliki kehidupan setara dengan Aisyah. Bahkan ada yang kurang dari Aisyah. 

Mata saya nanar , ketika pandangan saya tertuju di salah satu rumah. Rumah itu ternyata rumah anak yang sekolah di tempat saya. Saya mendekat di gang tepat depan rumah tersebut. Ternyata bukan satu rumah, tetapi tiga rumah yang berdempetan saling berhadapan dan tidak punya halaman. Nyaris tidak ada sinar matahari yang masuk. Apakah rumah itu dihuni oleh satu keluarga atau lebih? Pertanyaan itu ada dalam benak saya. Saya masih berada di atas sepeda motor yang saya berhentikan  di depan gang sebelum sampai di rumah Aisyah. 

Saya menjadi penasaran ketika saya melihat anak usia sekolah pada jam 09.00 berada di rumah? Lagi-lagi pertanyaan muncul dalam benak saya. Apakah anak ini tidak sekolah? Apakah anak ini sekolah di tempat saya? Apakah anak ini sakit? Apakah anak ini dibiarkan saja tidak sekolah oleh orang tuanya? Bermacam pertanyaan di hati saya sebelum saya menuju ke anak tersebut.

Saya turun dari sepeda motor dan melangkah ke arah anak tersebut di rumah yang saya lihat. Tiga rumah yang ada dalam satu komplek tanpa ada sinar matahari masuk dan tanpa halaman. Tiba di rumah itu, saya melihat seorang laki-laki yang saya duga dia adalah orang tua anak yang tidak sekolah tadi. Saya tidak mengenali anak tersebut, apakah anak itu sekolah di tempat saya atau tidak mengingat jumlah anak yang tergolong banyak di sekolah. Tapi saya yakin jika ia sekolah maka pastilah ia sekolah di tempat saya. Satu-satunya sekolah yang ada di sekitar kampung Aisyah adalah sekolah saya. 

Melihat saya datang, lelaki paruh baya itu adalah orang tua anak yang saya lihat. Saya bertanya,"Apakah ini putra bapak dan apakah ia sekolah di tempat kami?" Lelaki itu mengiayakan pertanyaan saya. Lalu mengapa ia tidak sekolah? Jawaban yang dapatkan adalah anaknya tidak sekolah karena terlambat bangun. Saya menjadi heran jika anak terlambat bangun pagi, bagaimana dengan Subuhnya? Apakah orang tuanya juga terlambat bangun. Bagaimana dengan Subuh orang tuanya? Astagfirullah....bukan bersuuzhan. 

Keheranan saya bertambah ketika saya berbincang-bincang dengan orang tua di rumah yang saya datangi, keluar masing-masing satu anak dari dua rumah satu komplek. Ya Allah....ucap saya sambil menatap ke arah dua anak yang keluar sambil menggosok-gosok matanya.

'Ini juga , Bu! Dia tidak masuk juga. Katanya libur satu minggu." 

Seorang ibu yang keluar dari dapur menunjuk anak yang baru bangun. Ternyata itu adalah anaknya. 

"Ya Allah, Ibu! Mengapa ibu bisa dibohongi anak, Bu!. Apakah ibu tidak melihat anak-anak yang lain pagi hari ramai memenuhi gang di depan rumah ibu? Anak-anak berseragam merah putih, Bu?" Pertanyaan saya tujukan kepada ibu dan bapak yang ada di rumah itu. 

Guru pertama dan utama bagi anak-anak kita adalah orang tua. 

Saya tidak berlama-lama di rumah itu. Saya jelaskan kepada orang tua tersebut bahwa kegiatan saya di samping berada di sekolah, saya rutin berkeliling ke perkampungan asal anak, asal murid. Tidak secara pemberitahuan, tetapi berifat situasional dan kondisional seperti pada jam-jam anak sudah berada di dalam kelas atau jam sekolah. Jika saya menemukan anak sedang berada di rumah atau saya temukan bermain di kampung pada jam sekolah, maka saat itu juga anak tersebut saya bawa ke sekolah. Saya tunggu mereka mengganti pakaian lalu saya bonceng masuk sekolah.

"Lebih baik terlambat daripada tidak masuk sekolah. tetapi jangan membuat terlambat menjadi kebiasaaan." 

Yang bertanggung jawab meletakkan pondasi kuat kepada anak adalah orang tua dan pendidikan di sekolah. Pondasi pendidikan agama, karakter, akhlak, sosial dan budaya. 

Dari kampung Aisyah, saya berpindah ke kampung anak yang lainnya. Ada saja cerita  yang saya peroleh.  Sebut saja namanya Fikri yang asyik meraut bambu untuk membuat layangan di rumahnya sementara teman-teman seusianya bergelut dengan pelajaran di sekolah. 

Lain Fikri lain pula dengan Adi. Ia berlari kencang keluar kamarnya ketika mendengar saya datang mengucap salam depan pintu rumahnya. 

Ada apa dengan Fkiri dan Adi. Mereka tinggal bersama siap di rumahnya? 

Lombok , Tulisan ke-11





Senin, 13 Februari 2023

Menulis Buku Cerita Digital

 Resume 16

Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) PGRI Gelombang 28

Narasumber  : Nur Dwi Yanti

Moderator     : Dail Ma'ruf

Materi            : Buku Cerita Digital

Pertemuan ke : 16

Tanggal          : 13 Februari 2023

Mengutip chat dalam whatsaap grup KBMN gelombang 28 dari ibu Yandri Novitasari,

"Di era saat ini, Society 5.0 di mana semua konsep masyarakat berpusat dan berbasis pada teknologi. Kecakapan berteknologi digital memegang peran utama di segala bidang, pun dalam literasi. Salah satunya adalah pergeseran paper ke digital. Membaca buku yang biasanya hanya dapat disimak melalui media kertas, sekarang bergeser ke digital. Sebagai guru kita harus"melek" dan belajar tentang teknologi digital."

Kutipan ini merupakan pemantik untuk menuju materi yang akan disampaikan oleh narasumber pertemuan ke 16 KBMN. Ibu Nur Dwiyanti dengan sapaan Ibu NDY

Belajar kelas maya pertemuan ke 16 ini tidak seperti biasanya melalui chat di whatsaap grup, tetapi menyatukan peserta melalui zoom metting. Tentu ini menarik karena peserta bisa saling melihat wajah. Lebih menarik lagi, materi disampaikan dengan bergabung di link zoom.

Pengertian buku digital adalah salah satu jenis buku aau bacacan yang hadir dalam bentuk softcopy atau elektronik yang kemudian bisa dibaca menggunakan perangkat digital, baik itu smartphone maupun komouter (PC dan latop). E book disebut buku nirkerta/buku maya. Buku digital/buku elektronik di singkat e-book  atau ebook, aalah bentuk digital dari buku cetak.

Menurut Oxford KAmus Bahasa Inggris, buku digital sebenarnya berawal dari buku cetak, kemudian bukucetak tersebut ubah dalam perangkat ebook yang dapat dibaca melalui komputer maupun ponsel genggam probadi

Fungsi buku digital:

  1. Sebagai salah satu alternatif media belajar
  2. Sebagai media berbagi informasi

Tujuan buku digital: 

  1. Memebrikan kesempatan kepada pembat konten untuk berbagi dengan mudah, dengan cara yang menarik dan interaktif
  2. Melindungi informasi yang disampaikan
  3. Mempermudah proses memahai materi ajar

Aplikasi dan buku digital berbasis web:

  1. Sigil merupakan sebuah software editor untuk EPUB (elektronik yang bersifat open source. https://sigil-ebook.com/
  2. Scribus, aplikasi ini juga sudah banyak digunakan. https://www.scribus.net/downloads/
  3. Aplikasi pengolah kata yaitulibre Office atau MS Office
  4. Aplikasi pengolah gambar yaitu ibispaint atau adobe photoshop
  5. Aplikasi audio editro yaitu audacity/format factory
  6. Aplikasi video editor yaitu avidemux/format factory

Aplikasi Pemformatan Buku Digital. Cerita Anak Direktorat Sekolah Dasar, Legutu Media

Efisiensi Buku Digital: Selain praktis, sagi fisik lebih efisien, dapat diakses di mana saja, dapat disimpan file e book tertampung di dalam memory, ramah lingkungan dan kostumisasi

Jenis-Jenis Format Buku Digital:

  1. EPUB-Elektronik Publication,
  2. MOBI-MobiPocket
  3. PDB-Palm Databasefile
  4. PDF-Portable Document Format
  5. KF8--Kindle Fire Format
Contoh buku cerita anak digital bisa dibuka di https://s.id/DigitalCerita

Menggunakan aplikasi Canva sangat bagus untuk mendesain buku cerita dan dibuat menjadi buku cerita digital.

Langkah Awal CGP Angkatan 10

 Oleh Nuraini Dokumen Pribadi Sekolah Dasar Negeri 1 Dasan Tereng, merupakan salah satu sekolah penyelenggara program sekolah penggerak. Dal...